February 18, 2013

Pra Nikah dan Pasca Nikah

Hanya iseng mampir ke tumblr lama. Rupanya banyak hal baru disana. Ketemu dengan sebuah postingan salah satu follower dan followingku di sana dalam sebuah kajian Islam di Masjid Salman ITB. Membahasa mengenai pra nikah dan pasca nikah. Izin ku share. Semoga bisa bermanfaat bagi kita yang membacanya. Monggo...

Dalam pengaturan Islam, proses pra-nikah juga telah diatur yang disebut dengan proses ta’aruf/perkenalan sebelum lanjut kepada proses khitbah/lamaran :

[1] Ta’aruf/perkenalan
[2] Khitbah/lamaran
[3] Nikah
Terdapat 2 perkara yang tidak main-main dalam proses pernikahan

Lamaran
Cerai

Laki-laki tidak boleh bermain-main perkara lamaran,
jika ada laki-laki yang datang kepadamu (perempuan) dan bersenda gurau soal lamaran, tinggalkan!

Kita juga diminta berhati-hati pada syaitan. Syaitan telah bersumpah untuk selalu menggoda manusia tak terkecuali dalam perkara ini. Pada pacaran, syaitan terus menggoda kedua insan tersebut untuk merasa ingin terus bersama, enggan berjauhan satu sama lain, merindu dan memikirkan setiap saat.

Lupa bahwa pekara tersebut telah mendekati zina, zina secara bahasa artinya merusak. Zina bukan hanya soal farji ( sex ), tapi juga meliputi zina mata , hati, pikiran, kaki, tangan, dan lain-lain.

Apabila kedua insan ini menikah, syaitan juga telah bersumpah untuk memisahkan orang-orang yang telah menikah. Dengan cara apapun, melalui kecurigaan dan lain-lain. Apabila syaitan tidak mampu memisahkan keduanya, maka ia akan menggoda melalui anak-anaknya. Maka tidak dipungkiri banyak anak-anak yang melawan kepada orang tuanya, membantah. Dan lain-lain.
Perkara ini menjadi lebih baik apabila sejak awal, kedua insan tersebut melibatkan Allah pada proses pra-nikah dan setelahnya. Bukan justru melibatkan syaitan sebagai pihak ketiga. Dan syaitan terus menggoda melalui hawa nafsu manusia. Semoga kita diselamatkan dari godaan syaitan tersebut.
————————————————————————————————-
TA’ARUF
Islam menawarkan solusi segala masalah,terutama masalah perkenalan seseorang dengan orang yang lain yang memiliki maksud untuk menikah, meskipun pada akhirnya tidak dilanjutkan ke proses selanjutnya. Islam telah memberikan koridor-koridornya sendiri.

Ta’aruf jelas berbeda dengan pacaran. Meski ada beberapa orang yang ingin menyamakannya, hal ini tidak akan bisa.

"Sesungguhnya perkara halal itu jelas dan perkara haram itupun jelas, dan diantara kedua-duannya tedapat perkara-perkara syuhbat yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang.oleh karena itu, barangsiapa menjaga diri dari perkara syuhbat, ia telah memelihara agama dan kehormatannya ….” ( hadist riwayat Muslim)

Dalam islam, perkara halal dan haram telah jelas, kebenaran itu sudah ada,tinggal manusia ikhlas untuk menerima kebenaran tersebut atau tidak. Atau justru berusaha menolak dengan argumentasi logika yang sebenarnya berasal dari hawa nafsu. Perkara yang jelas tidak boleh/haram tidak akan menjadi halal hanya dikarenakan mengucapkan bismillah atau dengan embel-embel islami.

PRINSIP PERNIKAHAN
Pernikahan pada prinsipnya adalah pemindahan amanah, seorang perempuan yang sebelumnya menjadi amanah Allah kepada orang tuanya, seluruh amanah dan tanggung jawab tersebut berpindah kepada suaminya. Perjanjian pemindahan amanah ini sangatlah kuat. Allah menyebutnya sebagai “mitsaqan ghaliza” , perjanjian yang sangat kuat.
Kata ini hanya dipakai 3x dalam Al Quran untuk 3 perjanjian terkuat yang pernah ada.
Allah SWT membuat perjanjian dengan para Nabi Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa (Al Ahzab 73:7)
Allah SWT mengangkat bukit Thur di atas kepala bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia pada Allah (An Nissa 4:154)

Allah SWT menyatakan hubungan pernikahan (An Nissa 4:21)
Akad nikah/ijab qabul disejajarkan dengan perjanjian antara Allah dan para nabi, sesuatu yang sangat mulia dan sangat berat. Maka celakalah bagi kita yang menganggap remeh urusan pernikahan ini.



CITA DAN REALITA
Pernikahan adalah sebuah realita, sedangkan apa yang sedang kita pikirkan saat ini tentang pernikahan adalah cita-cita. Membayangkan yang indah dan penuh dengan romantisme. Tidak salah, namun kita harus sadar betul bahwa pernikahan pada akhirnya adalah realita dimana didalamnya terdapat hal-hal yang diluar dari cita-cita kita.

Jika kita memiliki cita-cita dan tidak tercapai, tentu kecewa. Maka dari itu,kita harus mempersiapkan segala sesuatunya. Mengharapkan yang indah-indah saja tentu tidak baik, bahwa pernikahan itu satu paket, kebahagiaan dan kesedihan. Tidak bisa diambil salah satunya. Kebanyakan dari kita hanya membayangkan sesuatu yang menyenangkan, romantis, dan lain-lain. Padahal,ada banyak hal lain yang juga harus menjadi perhatian.

Sebab itu diperlukan ilmu untuk menghadapi “realita” tersebut agar cita-cita kita bisa terwujudkan dengan baik dan kita tidak kaget seandainya nant kita bertemu dengan hal-hal yang tidak kita pikirkansebelumnya. Ketika kita punya cita-cita / keinginan, kita harus siap kecewa, ilmu itulah digunakan untuk memenejemen kekecewaan tersebut agar tidak sampai merusak sucinya sebuah pernikahan.

Tentu saja kita harus berilmu sebelum beramal, sebab ilmu adalah pemimpin amalan. Pernikahan bukanlah sekedar mencari kesenangan dan ketenangan, tapi mewujudkan. Sebab ketenangan dan kesenangan itu tidaklah hadir dengan sendirinya, harus diupayakan oleh kedua pasangan. Bekal ilmu sangatlah penting bagi keduanya. 


MODAL UTAMA
Modal utama ketika hendak menikah adalah taqwa, baik laki-laki mauapun perempuan. Kadang banyak dari masyarakat melupakan modal utama ini, lebih sibuk menyiapkan modal materi baik harta maupun sesuatu yang bendawi. Dengan ketaqwaan,seseorang akan memiliki keteguhan hati dan keyakinan penuh kepada Allah.

Cinta kepada suaminya tidak ia simpan dalam hati, begitupun sebaliknya. Cintanya kepada harta tidak juga ia simpan di dalam hati. dan lain-lain. Seluruh cintanya ia percayakan kepada Allah. Apabila suatu saat ia harus kehilangan pasangan, harta, dll ditengah mengarungi pernikahan. Keduanya tidak lepas dari tali Allah.

Taqwa juga dapat diartikan mau dihukumi secara Al Quran dan As Sunah, segala sesuatu disandarkan pada keduanya. Kedua insan tersebut melandaskan perjalanan pernikahan pada pedoman tersebut, segala sesuatu selalu dikembalikan kepada Allah, ridha atau tidakkah Allah kepada perbuatannya.

PEMIMPIN ADALAH PELAYAN
Hal ini sudah diterangkan dalam Al Quran, tapi menjadi pertanyaan. Apakah prinsip pemimpin tersebut. Suami sebagai pemimpin rumah tangga harus sadar betul bahwa secara prinsip, pemimpin adalah pelayan. Pemimpin tidak dilayani,tapi melayani. Hal ini telah dicontohkan dalam kepemimpinan agung para Khilafah dalam memimpin negara.

Suami haruslah melayani istri sebaik-baiknya, memastikan istri memiliki rumah tinggal yang layak, pakaian yang layak, makanan yang cukup, jaminan keamanan dan lain-lain. Pelayan yang baik adalah pemimpin yang baik.

Sayangnya, tidak semua laki-laki yang kelak akan menjadi suami paham betul prinsip dasar kepemimpinan ini. Mereka justru meminta pelayanan dari yang dipimpin. Jangan sekali-kali laki-laki memimpin dengan kekuatan materi/harta, juga jangan terlalu banyak memerintah. Sesungguhnya perintah itu menyulitkan. Jadilah pemimpin yang mengagumkan. Karena menjadi pemimpin yang dipercaya oleh orang yang dipimpin sangatlah sulit.

PEREMPUAN DAN KEWAJIBAN 

Dalam pernikahan, perempuan hanya dituntut oleh 3 kewajiban utama:

Menjaga harta dan kehormatan suami
Menyenangkan hati suami
Taat

Logikanya, tidak ada kewajiban bagi istri untuk menyediakan makanan, mencucikan bajunya, dan lain-lain. Pekerjaan rumah tangga tersebut sejatinya adalah pekerjaan suami sebagai salah satu bentuk layanan kepemimpinannya.

Akan tetapi, kita tidak pula terpisahkan dari kebudayaan timur yang telah membentuk pola. Tidak bisa memungkiri bahwa memasakkan masakan yang lezat untuk suami adalah salah satu hal paling romantis di muka bumi. Atau melakukan pekerjaan rumah tangga adalah kesempatan bersenda gurau yang menyenangkan, berbagi pekerjaan rumah.

Akan tetapi, suami dilarang memerintah apalagi memaksa istri untuk melakukan pekerjaan rumah tangga , apabila pekerjaan tersebut tidak bisa dikerjakan keduanya, maka suami harus meringankan beban istri dengan menyediakan asisten rumah tangga jika mampu.

Istri cukup melaksanakan 3 kewajiban mendasar tersebut, maka tuntaslah kewajibannya sebagai istri insyaallah solehah.

TUJUAN PERNIKAHAN
Dua insan yang melakukan pernikahan harus paham betul apa tujuan pernikahan mereka. Sebab sejatinya perlu diketahui bahwa tujuan berumah tangga adalah khusnul khatimah. Mencapai khusnul khatimah sangatlah sulit, kita tidak pernah tahu apakah kematian kita dalam keadaan tersebut atau tidak. Dengan tujuan tersebut, maka seluruh aktivitas berumah tangga akan berorientasi kepada ibadah.

Sering pula kita mendengar tentang Keluarga Samara, tapi sedikit sekali yang paham betul apa itu samara :

Sakinah
ketentraman

Mawadah
kasih sayang yang membangun semangat duniawi , contohnya karena cintanya seorang laki-laki kepada istrinya, dia menjadi begitu bersemangat bekerja mencari nafkah untuk membahagiakan istrinya

Warahmah
kasih sayang yang membangun semangat ibadah, contohnya adalah saling membangunkan tengah malam untuk shalat malam
————————————————————————————————
Menikah bukanlah perkara sehari seminggu seperti Ujian Nasional, menikah adalah perkara dunia dan akhirat. Sebab itu diperlukan ilmu yang matang dan kesiapan yang kukuh. Sebab perjanjian yang sangat kuat ini juga diikuti oleh tanggungjawab dan resiko yang sangat berat.

Membahas masalah seperti ini tentu saja bukan perkara “galau” seperti yang banyak remaja olokkan pada temannya. Bangunlah sifat saling mendukung untuk mencari ilmunya kemudian membaginya. InsyaAllah, apa yang kita semua citakan tentang pernikahan akan lebih tertata dengan baik.

Bukan sekedar perkara romantis saja yang dibayangkan, namun siapkan diri kita pula untuk perkara-perkara yang tidak pernah terpikirkan.

Semoga bermanfaat :)

0 comments:

Post a Comment