April 10, 2011

Menjaring Matahari


Sekilas mungkin semua akan berfikir tentang sebuah judul lagu milik penyanyi legendaris Indonesia, Ebiet G. Ade. Namun yang ingin saya tuliskan di sini adalah tentang apa yang saya rasakan, atau yang anda rasakan ketika membaca tulisan ini. 

Menjaring Matahari...Rasanya ingin sekali saya menjaring matahari yang akhir-akhir ini seperti tidak punya batas toleransi. Rasanya ingin sedikit membungkus matahari yang sedang semangat tersenyum. Masya Alloh, panasnya membuat kepala pusing, mata menjadi silau sesilau-silaunya, dan kulitpun seperti terasa terbakar. Membuat malas menginjakkan kaki keluar rumah walau hanya selangkah dua langkah.

Memasuki pergantian iklim di beberapa daerah di Indonesia, khususnya yang saya rasakan kini di Bekasi dan sekitarnya, cuaca menjadi sangat tidak bersahabat. Ditambah lagi dengan dampak global warming yang memang benar-benar sudah nyata terjadi. Entah hanya saya atau kerabat yang merasakannya, waktu semakin terasa lebih cepat. Terutama waktu malam hari. Memasuki pukul enam sore, matahari masih terlihat cukup terang di beberapa bagian wilayah. Semantara menjelang subuh, matahari pun sudah siap beraktivitas. 

Hal lain yang sangat dirasakan adalah suhu yang semakin meningkat terlebih di malam hari. Seringkali ini menyebabkan rasa kegerahan di waktu tidur. Beberapa bukti nyata adalah ketika saya hendak wudhu pada saat solat maghrib. Air yang keluar dari keran terasa seperti air dari heater. Kalau orang-orang tua bilang,”hangat-hangat kuku”. Hal lainnya adalah mukena berbahan kaos yang benar-benar “adem”jika dipakai menjadi hangat. Padahal Mukena itu tudak sedang dijemur di bawah terik matahari, melainkan ada di mushola kecil dalam rumah.

Beberapa hal yang saya sebutkan diatas hanya contoh kecil. Lainnya seperti intesitas debu yang berterbangan semakin banyak. Fakta bahwa kerusakan lingkungan berada dalam titik kritis.

*Untuk Sang Surya di Bumi Bekasi*

0 comments:

Post a Comment