February 12, 2011

Ketika Bhinneka Tunggal Ika Tinggal Semboyan

Kalau dulu, kita masih ingat pelajaran PMP atau PPKN (bahkan sebagian ada yang memasukkannya dalam pelajaran sejarah) yang ditetapkan sebagai mata pelajaran wajib dari mulai sekolah dasar hingga menengah atas, atau beberapa ada yang sampai pada jenjang perguruan tinggi, tentunya Bhinneka Tunggal Ika bukan sebuah kata yang asing ditelinga kita. Bukan sekedar kata yang tertera dalam Lambang Negara kita, Burung Garuda, tetapi lebih jauh daripada itu Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan bangsa Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika, sebuah kata sarat makna karangan Mpu Tantular dalam kitabnya yang terkenal, yakni Sutasoma, menggambarkan secara ramping bagaimana pluralisme telah tertanam dalam tubuh bangsa ini sejak dulu.


Secara gamblang dijelaskan dalam beberapa literatur sejarah bangsa ini, Bhinneka Tunggal Ika adalah bahasa Sansekerta yang memiliki arti “Walau Berbeda-beda Tapi Tetap Satu Jua”. Rasa-rasanya kalimat sederhana ini mudah sekali melekat dalam hati dan pikiran segenap bangsa Indonesia. Sejatinya, sang Mpupun melihatnya demikian sebagai konsep persatuan dan kesatuan ditengah kemajemukan meski pada zamannya, Indonesia justru belum terbentuk.

Melihat bagaimana kondisi Indonesia secara utuh, baik itu dari segi geografi maupun demografi, cukup pantas bahwa Indonesia dikatakan sebagai bangsa yang majemuk. Dihuni oleh berbagai macam suku, dengan ribuan bahasa, dan beberapa agama yang diakui adalah bukti bahwa pluralisme memang ada di negara ini. Bahkan negara pun mengakui, Alm. Abdurahman Wahid adalah contoh anak bangsa yang menjunjung tinggi kebhinekaan yang ditunjukan dengan pembelan-pembelaan terhadap kaum minoritas.

Dalam beberapa peristiwa sebagai cerminan dari kehidupan berbangsa dan bertanah air serta menjunjung tinggi demokrasi, beberapa ada yang bisa hidup berdampingan dengan damai, namun tidak sedikit juga yang berakhir dengan konflik. Namun, sesungguhnya disitulah letak konsep ke-Bhineka Tunggal Ika –an yang sesungguhnya lahir. Bahwa kemajemukan bukan sebagai alat pemecah melainkan sebagai alat pemersatu.

Bila kita ambil contoh beberapa kasus yang terjadi akhir-akhir ini, sesungguhnya kita telah kehilangan makna Bhinneka Tunggal Ika yang selama ini kita gadang-gadang dengan penuh rasa bangga. Sederhananya saja adalah kasus pengeroyokan Jemaat Ahmadiyah dan Kerusuhan di Temanggung, Selasa (8/2). Melalui dua kasus ini setidaknya telah membuka lebar mata kita bahwa pada kenyataanya belum sepenuhnya Bhinneka Tunggal Ika benar-benar diterapkan dalam kehidupan kita.

Lantas apa salah perbedaan itu jika Sang Penciptanya saja menciptakan manusia melalui perbedaannya. Maka ketika Bhinneka Tunggal Ika hanya menjadi sepotong kalimat tanpa makna dan perbuatan, masih cukup pantaskah negara ini menjunjung tinggi hak asasi manusia di dalam Pancasila-nya?

Sebenarnya jika kita mau lihat lebih jauh, memanusiakan manusia mungkin lebih tepat daripada harus baku hantam lewat kekerasan yang kerap kali terjadi manakala perbedaan muncul ditengah-tengah masyarakat. Dan ketika emosi sudah tidak bisa dikendalikan, yang rasional pun menjadi irasional, dan manusia pun tidak ubahnya seperti kumpulan binatang berebut mangsa. Inikah Indonesia yang kita harapkan? Rasanya sudah cukup ibu pertiwi ini menangis meratapi tingkah polah anak bangsanya. Ketika kekuasaan mampu menggelapkan semuanya dan uang pun menjadi tuhan abadi, masihkah ada kesempatan untuk Indonesia yang lebih damai dalam persatuan?

Adalah tugas berat kita semua untuk membenahinya. Sekarang atau tidak sama sekali.

2 comments:

  1. beda dikit boleh ya ke? kan perbedaan itu indah hehehe

    benar, negara ini adalah negara yang majemuk atau plural. Benar, bhinneka tunggal ika memang mamiliki makna "walaupun berbeda-beda tapi tetap satu jua"(bener ga?)tapi kalo yang dibahas adalah masalah ahmadiyah, kayanya itu lebih ke masalah internal umat islam itu sendiri deh. Kan ga bawa-bawa kristen, budha, hindu atau agama dan ras lainnya.

    Karena sebenernya pertentangan tersebut timbul sebagai dampak perbedaan prinsip dalam ajaran islam. Masa iya yang udah baku di Al-Quran mau ditentang trus dimaklumi? Cara ngelurusinnya aja yang salah, pake kekerasan. Harusnya sebelum terjadi chaos kaya gini, pemerintah udah lebih dahulu tanggap memberikan solusi. Pertentangan ini kayaknya udah cukup lama ada di Indonesia dan mayoritas pemimimpin negara ini kan islam juga. Koq pemerintah ga ngeh sih? Kalo gini kan jadi kesannya di mata pemeluk agama lain, umat islam itu pemikirannya dangkal.

    Ada baiknya juga, sebelum menilik hak seseorang, especially, untuk hak asasi manusia, kita liat dulu bagaimana orang itu memenuhi kewajibannya sebagai manusia dalam berbagai peran. Kita juga liat dulu apakah haknya tersebut sudah melanggar hak-hak orang lain atau enggak. Kalo udah nyangkut ama kemaslahatan orang lain, susah juga nyebut hal tersebut jadi bagian dari HAM.

    Bagaimana masyarakat Indonesia masih sulit menerima perbedaan tuh kayanya cermin pendidikan juga ke.. Sebagian orang di negara ini masih membutuhkan pembelajaran untuk memahami perbedaan-perbedaan yang ada. Semakin rendah pendidikan dan pengetahuannya, semakin rendah pula tingkat intelejensi dan kedewasaannya dalam menerima perbedaan di negara demokrasi yang Bhinneka Tunggal Ika ini.

    Lah koq gw jadi nulis blog ya? hahahaha
    Ya pokoknya, ini adalah "PR" untuk kita semua sebagai bangsa yang lagi berkembang. Semoga masalah-masalah ini bisa menjadi pembelajaran bagi bangsa ini agar bhinneka tunggal ika bisa benar-benar di tegakkan.

    Cheerz ^_^

    ReplyDelete
  2. ya boleh lah neng citrong..hehe..
    sebenernya maksud tulisan itu cuma ngungkapin kemirisan sama kekerasaan yang terjadi karena perbedaan..ga tega banget ngliat orang udah ga bernyawa dipukulin..klo dr sudut pandang agama sih pendapatnya citra bueenneeerrr banget. Tapi tulisan eike ini dari sisi kemanusiaan yang ga banget lah apalagi disorot mengenai HAM nya..

    oke, well..walau berbeda-beda tetap satu yaaa,,,hehe,,termasuk soal komen2an kita ni..wkwkwkw..

    ReplyDelete