February 23, 2011

self titled

Sesak..
Sesak..

Menyeruak..
Menyeruak pelan..

Pelan..dan pasti..

Nyata..
Itu nyata..

Sadar..
Bergegaslah..
Sekarang..
Atau tak kan pernah!
Published with Blogger-droid v1.6.7

February 14, 2011

Ini Hidup!

Saya pernah punya mimpi. Tapi saya tahu itu cuma mimpi. Bahkan saya tidak berani membuatnya nyata. Jauh dari keberanian saya. Karena mimpi saya biar hanya jadi mimpi. Mimpi yang menjadi bagian hidup saya, tanpa harus membuatnya nyata. Maka saya akan nikmati mimpi itu. Meski hanya sebatas mimpi. Ya, hanya sebatas mimpi..

Dalam hidup banyak hal yang dicari lewat ketidakpastian. Bahkan ragu. Untuk berani menentukan langkahpun sering semu atau bimbang. Bahkan kepastian didepan mata sekalipun, tidak sepenuhnya pasti. Pasti untuk yang tidak pasti.

Dia telah membawaku sejauh ini..lewat segala jalan yang Dia tunjukkan. Dia tahu ada asa yang kugenggam. Asa yang hadir dalam luka dan air mata. Yang hadir dalam sakit yang berlarut. Namun juga asa yang hadir dalam tawa, dalam doa yang lirih. Dalam takwa yang belum sempurna.
Yang aku takut, aku terjatuh lagi setelah sempat berdiri. Bahkan jauh lebih jatuh dari yang pernah terjadi.
Published with Blogger-droid v1.6.7

Demi Solat Yang Ingin Kutegakkan

secara ga sengaja dapet sebuah cerita..sederhana, tapi cukup mengena..semoga semua bisa di ambil pelajaran darinya..sediiiiiihhhh.....
let's read...

DEMI SOLAT YANG INGIN KUTEGAKKAN
Subhanallah..Maha Besar Allah dengan segala firman-Nya. Hari ini mungkin aku bisa tersenyum bahagia. Tepat setahun sudah aku berada dalam kondisi senyaman ini. Tak ada lagi takut menggelayut atau sembunyi ciutkan diri manakala aku berusaha mendekatkan diri dengan-Nya. Dia pun telah beri jalan agarku bisa bersimpuh dihadap-Nya sesuka yang ku mau. Alhamdulillah..

Terlahir dari orang tua berbeda agama sempat membuat aku nyaris berputus asa
dalam keadaan. Ibuku seorang muslim, ayahku seorang Katolik. Kerap kali rasa menyesal atau menyalahkan hadir dalam diriku. Kenapa aku terlahir begini? Kenapa Kau siapkan aku dalam ujian sedemikian rumit, Tuhan? Bahkan aku pun tidak tahu harus memilih apa.

Beruntung, sejak duduk di bangku Taman Kanak-Kanak aku dimasukkan pada sekolah berbasis islam, TK Muhammadiyah Bustanul Athfal. Lewat TK itu aku tahu islam. Aku tahu nabiku, aku tahu kitabku. Tapi apalah artinya pendidikan agama di sekolah TK yang hanya bermain. Jadilah pengetahuan islamku lembek. Yang paling aku ingat adalah, manakala ada pertemuan orang tua murid, ayah kerap kali tidak hadir. Ayah memang tidak setuju aku bersekolah di TK Islam. Selalu kurasa iri dengan mereka, teman sebayaku yang datang bersama ayah dan ibunya. Tapi aku tidak. Hanya ibu yang menemaniku. Terlebih lagi saat pengumuman kelulusan, ayah lagi-lagi tak datang. Padahal ingin sekali kulihat ayah disini, menyaksikan putri pertamanya tampil di acara pentas seni TK hari itu. Ah, hanya angan. Maka jangan heran, betapa bahagianya aku saat ayah datang menjemputku di hari terakhir aku di TK itu. Senangnya bukan main. He is my father!

Buntut dari keputusan ibu menyekolahkanku di TK Islam saat itu adalah kemarahan ayah. Lantas selanjutnya, ayah mengurus keperluan SD ku termasuk mendaftarkan aku di sekolah Katolik. Aku memang tidak mengerti, yang aku tahu adalah aku akan masuk SD. Sejak di SD itulah aku makin kabur tentang Islam. Pernah, ibu mendaftarkanku pada sebuah TPA dekat rumah, tapi lagi-lagi ayah marah. Melihatnya saja aku takut. Maka, setelah kejadian itu aku selalu bersembunyi jika ingin pergi mengaji. Namun sayang mengajiku tidak tamat. Entah sampai pada Iqro berapa saat itu aku belajar. Yang jelas aku meninggalkan TPA itu setelah ayah kembali memergokiku mengaji.

Berlanjut dari SD sampai SMP akhirnya aku sekolah di sekolah swasta Katolik tempat ayahku bekerja. Ah, ya sudahlah. Mau tak mau, pelajaran agama Katolik yang akhirnya kutelan mentah-mentah selama 9 tahun. Pergaulanku pun sama, hampir tak ada teman seagama yang menjadi temanku. Kalau saja dirumah aku tidak pandai-pandai mencari kawan seagama, sudah tentu aku akan semakin jauh dengan islam.

Selain mengaji, adalah solat termasuk hal yang kulakukan secara sembunyi-sembunyi. Karena ayah akan lebih sangat marah jika tahu putrinya solat. Pemahamanku soal solat pun tidak sepenuhnya bagus. Masih bolong sana bolong sini. Karena aku sekolah di sekolah Katolik, otomatis solat yang bisa kukerjakan adalah solat yang waktunya setelah pulang sekolah. Belum lagi jika aku ada kegiatan diluar, makin kacaulah waktu solatku. Praktis, yang sering terjadi adalah aku meninggalkan solat Dzuhur dan Ashar. Dan jika beruntung, aku bisa mendapati Maghrib jika ayah belum pulang dari kantor. Isya pun kadang lewat karena ayah sudah dirumah. Subuh pun juga tidak dapat karena aku berangkat pagi buta ke sekolah dengan mobil antar jemput yang menjemputku pukul 05.00.

Sebenarnya, ibu bukannya tidak berbuat apa-apa dengan kondisi ini. Hanya saja kulihat mereka sering bertengkar ketika ibu membelaku. Sejujurnya memang tidak ada paksaan atas pilihan Islam dihatiku. Kalau kebanyakan kawan beragama Islam karena memang memiliki kedua orang tua sama-sama muslim, berbeda dengan aku. Islamku, Islam yang kuputuskan. Memang aku akui, ibu yang mengajarkanku soal islam, tapi ayah juga memberi pengetahuan Katolik sejak dini. Jadi Islamku adalah keputusan murni seorang bocah TK saat itu.

Suatu hari, sepulangku dari solat berjamaah dengan teman-teman komplekku di masjid, tanpa disangka ayah pulang lebih awal. Bisa dibayangkan betapa kagetnya aku saat itu mendapati ayah dirumah dengan keadaan marah besar. Mukenaku diambil, bahkan disembunyikan. Begitu juga dengan sajadah dan Al Quran yang kubawa. Ayah memarahiku. Aku menangis sejadi-jadinya. Sungguh peristiwa iti sangat membekas hingga saat ini. 

Beruntung saat itu aku masih bisa meminjam sajadah dan mukena milik pembantuku. Aku tidak pernah menganggapnya sebagai pembantu, tapi lebih seperti seorang kakak perempuan yang selama ini aku memang tidak punya karena ku seorang anak sulung. Lewat dialah aku mulai mengenal solat yang baik dan benar. Tapi itu pun belum selesai karena ayah masih tidak bisa menerima keadaanku.

Satu hal yang sangat aku senangi adalah aku tidak pernah ketinggalan solat Idul Fitri. Itulah yang sangat membuatku bahagia. Momen Idul Fitri selalu memiliki makna tersendiri dalam hidupku. Meskipun ayah tahu aku ikut solat Idul Fitri, tapi ayah tidak bisa marah karena aku pergi solat bersama Kakek dan Nenekku. Ayah sangat menghormati mereka. Dan aku bisa solat.

Akhirnya waktu membawaku pada masa remaja. Aku lulus SMP dan melanjutkan SMA. Di SMA, aku masuk ke sekolah negeri. Kali ini ibu yang berperan. Antara senang dan tidak senang aku berada di sekolah itu. Betapa tidak, setelah bertahun-tahun berada dalam lingkungan sekolah swasta dan nuansa Katolik yang kental, kali ini aku beradaptasi dengan lingkungan baru yang cukup asing buatku. Dan disinilah pertama kalinya aku belajar agama Islam. 

Hal yang pertama kali kutakutkan adalah ketika pelajaran Agama Islam. Rasanya seperti ingin kabur. Sering aku menangis. Menangis malu dan takut karena pengetahuan Islamku buruk. Malu karena mengajiku tak lancar untuk seusiaku. Tapi yang aku heran, aku selalu dapat melewati pelajaran Agama Islam itu dengan baik. Hingga saatnya aku lulus SMA. Rupanya belakangan aku baru sadar, Alloh memudahkan segalanya untukku. 

Kehidupanku di SMA sebenarnya merupakan titik awal perjalanan baru spiritualku. Akhirnya aku bisa mengenal Islam lebih jauh. Lewat buku-buku di perpustakaan, lewat pergaulanku dengan teman-teman atau lewat pengajian-pengajian di sekolah. Semua itu membuat duniaku terbuka soal Islam. Dan yang paling penting adalah aku tidak melewatkan solatku. Jika dirumah, aku sudah mulai berani menunjukkan siapa aku dan agamaku. Walau masih sembunyi tapi ayah perlahan bisa menerima. Itulah yang membuatku makin matang. Puncaknya adalah ketika aku dan adikku memutuskan untuk berjilbab. 

Keputusan kami ini memang sontak membuat ayah kaget. Aku sempat ditegur. Tapi kuberanikan diri mengutarakan pendapatku. Karena agama adalah hak semua orang. Dan meskipun ayah berbeda dengan kami, beliau tetaplah aku hormati. Entah hidayah apa yang telah Alloh berikan, setelah itu aku merasa semuanya telah lepas. Semua bebanku hilang. Dan tanpa disangka ayah tidak marah ataupun berlaku seperti dulu. Saat ini setahun peristiwa iti berlalu, masih dengan penuh syukur aku mengenang semuanya. Perjalanan itu cukup panjang aku lalui. Aku seperti bertahan seorang diri. Beruntung adik-adikku tak mengalami apa yang aku rasakan. Maka seringkali aku marah, jika adikku lalai dalam solat dan mengajinya. 

Kali ini kami bebas beribadah. Bahkan tak jarang ayah mendukung  meski kami masih berbeda keyakinan. Ada rasa haru dan bangga yang terselip dalam hati. Oleh karena itu aku sering merasa miris pada mereka yang meninggalkan solat. Pada mereka yang meninggalkan Al Quran. Pada mereka yang meninggalkan puasa. Karena sesungguhnya mereka seperti tidak bersyukur atas karunia Alloh pada mereka.

Saat ini semua berjalan normal. Tak ada lagi yang perlu ku khawatirkan.Dibalik semua peristiwa itu aku belajar. Belajar untuk sabar. Belajar untuk tidak menyerah pada keadaan. Belajar untuk terus bersyukur. Dan sebagai wujud syukurku pada-Nya, kelak aku berezeki lebih, besar keinginanku membangun sebuah TPA dirumahku. Melihat anak-anak belajar mengaji, sembahyang, dan mengkaji Islam dengan sungguh-sungguh. Agar kelak mereka bisa merasakan indahnya Islam dalam hidup mereka. InsyaAllah..

February 13, 2011

Menjadi perempuan dewasa adalah pilihan!

Dalam beberapa hal aku sadar bahwa langkah sudah keluar jalur hampir jauh.
Melalui sebuah pembicaraan di chat box yahoo messenger ku dengan seorang sahabat semasa kuliah dulu, dia memberiku sebuah pelajaran. Tidak banyak, tapi cukup mengena. Suatu sikap tentang hidup, masa depan, dan hati. Pelajaran bahwa langkahku, adalah pilihanku.

Tiga hal yang menjadi catatan penting untukku. Pertama adalah jangan menunda sesuatu untuk kemajuan diri kita. Beberapa peristiwa, entah itu kejadian atau lewat sebuah obrolan santai dengan sejawat, membawaku pada posisi memilih. Apakah aku masih bertahan dengan keadaan saat ini. Atau aku harus bergegas untuk kehidupanku yang lebih baik dalam segala aspek. Seringnya aku memilh untuk bertahan sembari melihat keadaan. Mempelajarinya baru kemudian memutuskan. Tapi, dasar gemini. Aku masih sering ragu dengan segala langkah yang aku ambil. Namun, obrolanku dengannya menyadarkan aku. Membuat sebuah tamparan untuk hidupku. Aku, mengiyakan kata-katanya. Berkaca dalam-dalam untuk diriku. Aku memang sudah tertinggal jauh.


Kedua, pesan yang dia sampaikan juga mengena dipikiranku. Bahwa sudah saatnya aku melihat realita. Menyadari bahwa aku sudah tertinggal jauh dengan mereka. Aku amini kata-katanya. Berpikir tentang diriku saat ini. Yang masih seperti ini. Ah, sungguh mereka (baca : teman sebayaku) membuat aku iri. Ternyata aku masih ingin seperti mereka..menapaki usia 23 tahun. Melihat dunia lewat caraku.. :)

Pelajaran ketiga yang lagi2 membuat aku terdiam..seolah sukses mempermalukan aku didepan mukaku sendiri..Adalah pelajaran tentang bagaimana menjadi perempuan yang tidak melakukan kesalahan..Ya obrolan kami waktu itu memang ngalor ngidul..tapi buatku itu cukup berbobot dan penuh inspirasi. Terima kasih sahabat...
Cukup untuk belajar sedikit menjadi perempuan dewasa..cheers!
Published with Blogger-droid v1.6.7

February 12, 2011

Ketika Bhinneka Tunggal Ika Tinggal Semboyan

Kalau dulu, kita masih ingat pelajaran PMP atau PPKN (bahkan sebagian ada yang memasukkannya dalam pelajaran sejarah) yang ditetapkan sebagai mata pelajaran wajib dari mulai sekolah dasar hingga menengah atas, atau beberapa ada yang sampai pada jenjang perguruan tinggi, tentunya Bhinneka Tunggal Ika bukan sebuah kata yang asing ditelinga kita. Bukan sekedar kata yang tertera dalam Lambang Negara kita, Burung Garuda, tetapi lebih jauh daripada itu Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan bangsa Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika, sebuah kata sarat makna karangan Mpu Tantular dalam kitabnya yang terkenal, yakni Sutasoma, menggambarkan secara ramping bagaimana pluralisme telah tertanam dalam tubuh bangsa ini sejak dulu.


Secara gamblang dijelaskan dalam beberapa literatur sejarah bangsa ini, Bhinneka Tunggal Ika adalah bahasa Sansekerta yang memiliki arti “Walau Berbeda-beda Tapi Tetap Satu Jua”. Rasa-rasanya kalimat sederhana ini mudah sekali melekat dalam hati dan pikiran segenap bangsa Indonesia. Sejatinya, sang Mpupun melihatnya demikian sebagai konsep persatuan dan kesatuan ditengah kemajemukan meski pada zamannya, Indonesia justru belum terbentuk.

Melihat bagaimana kondisi Indonesia secara utuh, baik itu dari segi geografi maupun demografi, cukup pantas bahwa Indonesia dikatakan sebagai bangsa yang majemuk. Dihuni oleh berbagai macam suku, dengan ribuan bahasa, dan beberapa agama yang diakui adalah bukti bahwa pluralisme memang ada di negara ini. Bahkan negara pun mengakui, Alm. Abdurahman Wahid adalah contoh anak bangsa yang menjunjung tinggi kebhinekaan yang ditunjukan dengan pembelan-pembelaan terhadap kaum minoritas.

Dalam beberapa peristiwa sebagai cerminan dari kehidupan berbangsa dan bertanah air serta menjunjung tinggi demokrasi, beberapa ada yang bisa hidup berdampingan dengan damai, namun tidak sedikit juga yang berakhir dengan konflik. Namun, sesungguhnya disitulah letak konsep ke-Bhineka Tunggal Ika –an yang sesungguhnya lahir. Bahwa kemajemukan bukan sebagai alat pemecah melainkan sebagai alat pemersatu.

Bila kita ambil contoh beberapa kasus yang terjadi akhir-akhir ini, sesungguhnya kita telah kehilangan makna Bhinneka Tunggal Ika yang selama ini kita gadang-gadang dengan penuh rasa bangga. Sederhananya saja adalah kasus pengeroyokan Jemaat Ahmadiyah dan Kerusuhan di Temanggung, Selasa (8/2). Melalui dua kasus ini setidaknya telah membuka lebar mata kita bahwa pada kenyataanya belum sepenuhnya Bhinneka Tunggal Ika benar-benar diterapkan dalam kehidupan kita.

Lantas apa salah perbedaan itu jika Sang Penciptanya saja menciptakan manusia melalui perbedaannya. Maka ketika Bhinneka Tunggal Ika hanya menjadi sepotong kalimat tanpa makna dan perbuatan, masih cukup pantaskah negara ini menjunjung tinggi hak asasi manusia di dalam Pancasila-nya?

Sebenarnya jika kita mau lihat lebih jauh, memanusiakan manusia mungkin lebih tepat daripada harus baku hantam lewat kekerasan yang kerap kali terjadi manakala perbedaan muncul ditengah-tengah masyarakat. Dan ketika emosi sudah tidak bisa dikendalikan, yang rasional pun menjadi irasional, dan manusia pun tidak ubahnya seperti kumpulan binatang berebut mangsa. Inikah Indonesia yang kita harapkan? Rasanya sudah cukup ibu pertiwi ini menangis meratapi tingkah polah anak bangsanya. Ketika kekuasaan mampu menggelapkan semuanya dan uang pun menjadi tuhan abadi, masihkah ada kesempatan untuk Indonesia yang lebih damai dalam persatuan?

Adalah tugas berat kita semua untuk membenahinya. Sekarang atau tidak sama sekali.

February 1, 2011

Disini, Setahun Lalu..

Alhamdulillah..satu tahun berjalan tepat hari ini. Yups, 1 Februari tahun lalu tepat pertama kalinya saya berada di kantor ini. Wew...walaupun baru berpredikat Calon Pegawai Negeri Sipil tapi ga masalah lah. Hanya tinggal tunggu proses Pra Jabatan aja sih sebenernya. 

Well, pengalaman pertama punya kantor setelah 7 bulan nganggur bener2 seruuu..kanalan sana sini sama sesama anak baru, saling tuker no.telp, yaaa macam mahasiswa baru aja..hohoho... yang saya suka adalah kantor saya ini bener2 terhindar dari macet...(bersyukur ga kerja di Jakarta). Nah, setiap hari PP naik motor. Lumayan irit ongkos. 

Oke, saya di tempatkan di Sekretariat DPRD Kota Bekasi. Di sub bagian Protokoler. En so pasti kerjaannya ngurusin anggota dewan terus. Basicly, saya suka kerjaan saya. Lingkungannya bersahabat en ceria lah. Diruangan yang cuma seuplik alias
kecil banget...3 X 7 M lah kira-kira..kita terdiri dari 6 perempuan en 3 laki laki..hohoho.. semuanya bener2 friendly lah..
protokol on vacation

My desk

My roomate

My Boss's room








Nah, hari ini tepat satu tahun kita disini. Lengkap dengan segala cerita dan kisahnya..woow.. Yaa, berharap aja, semua akan berjalan lancar dan baik-baik saja. Amiin..
Penandatanganan Perda

Adipura's Ceremony

at Paripurna's room
Next, soal hubungan dengan pihak eksternal..(bhasanya mengingatkan kembali ke jaman kuliah aja..hohoho...) pihak eksternal yang berkoordinasi langsung dengan bagian protokol adalah DPRD lain di seluruh Indonesia. Trus ada juga SKPD lain..oiya, SKPD itu (Satuan Kerja Perangkat Daerah). Yang pasti juga sih berhubungan dengan Kepala Daerah. Ada juga dengan wartawan maupun LSM dan Ormas lainnya. 

Ya, walau masih newbie di dunia kayak gini, saya bahagia kok. Masih terus menerus belajar soal Ilmu Pemerintahan plus seluk beluknya. Yang pasti sih sekarang masih nunggu Prajabatan supaya status segera berubah jadi PNS..

Ga mau jadi PNS asal2an, tapi mau jadi PNS yang smart dan idealis..hohoho...Yang beda dari kebanyakan. Yeaayy...