January 13, 2010

Atribution Theory (Harold Kelley, 1972-1973)

Sejarah Teori Atribusi
Teori atribusi dari Harold Kelley adalah teori atribusi yang paling terkenal diantara teori atribusi lainnya. Teori atribusi diperkenalkan oleh Fritz Heider (1958) pertama kali mengenai atribusi kausalitas. Atribusi merupakan proses menyimpulkan motif, maksud, dan karakterisik orang lain dengan melihat pada perilakunya yang tampak. Hal ini dikemukakan oleh Baron dan Byrne, 1979:56. Atribusi merupakan salah satu proses pembentukan kesan. Dimana proses pembentukan kesan ini dapat dilihat berdasarkan Stereotip, Implict personality Theory, dan Atribusi. Secara garis besar ada dua macam atribusi, yaitu atribusi kausalitas dan atribusi kejujuran. Heider mengemukakan bahwa apabila kita mengamati perilaku sosial, maka yang pertama kali harus kita lakukan adalah menentukan terlebih dahulu apa yang menyebabkannya, yakni faktor situasional atau personal. Dalam teori atribusi lazim disebut kausalitas eksternal dan internal (Jones and Nisbett, 1972). Beberapa peneliti lain menghubungkan proses atribusi dengan persona stimuli, dimana hal ini berhubungan dengan atribusi kejujuran.

Teori Atribusi Harold Kelley (1972-1973)
Teori Atribusi yang berkembang pada tahun 1960-an dan 1970-an memandang individu sebagai psikologi amatir yang mencoba memahami sebab-sebab yang terjadi pada berbagai peristiwa yang dihadapinya. Ia mencoba menemukan apa yang menyebabkan apa, atau apa yang mendorong siapa melakukan apa. Respon yang kita berikan pada suatu peristiwa bergantung pada interpretasi kita tentang peristiwa itu. Teori Atribusi yang dikemukakan oleh Harold Kelley menyatakan bahwa kita menyimpulkan kausalitas internal maupun eksternal dengan memperhatikan tiga hal, yaitu :
Konsensus : apakah orang lain bertindak sama seperti penanggap
Konsistensi : apakah penanggap bertindak yang sama pada situasi yang lain
Kekhasan : apakah orang itu bertindak yang sama pada situasi lain atau pada saat itu saja.
Menurut Teori Kelley ini, apabila ketiga hal itu tinggi, maka seseorang akan melakukan atribusi kausalitas eksternal.

Aplikasi Teori
Seorang mahasiswa, sebut saja namanya Rudi, bertengkar dengan seorang dosen di kampusnya, begitu pula dengan mahasiswa yang lain. Hal ini menunjukkan konsensus yang tinggi. Rudi pernah juga bertengkar dengan dosen itu sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa konsistensi yang tinggi. Kemudian Rudi tidak bertengkar dengan dosen yang lain, Rudi hanya bertengkar dengan dosen itu saja. Dalam hal ini maka kita akan menyimpulkan bahwa Rudi marah kepada dosen itu karena ulah dosen, bukan karena watak Rudi yang pemarah. Ini sebagai salah satu contoh atribusi kausalitas eksternal yang merupakan proses pembentukan kesan berdasarkan kesimpulan yang kita tafsirkan atas kejadian yang terjadi.