September 25, 2009

Menjaga Bara Kebaikan

Pelaksanaan ramadhan sesungguhnya dimaksudkan agar setiap insan berhasil meraih ketakwaan, yaitu kondisi dimana segala kehendak Allah SWT menjadi kehendak kita dan larangan Allah SWT menjadi batasan kita. Sesudah ramadhan menempa diri lewat kertertiban pola pengendalian nafsu dan peningkatan amal ibadah, maka ketakwaan yang menjadi buahnya tentu akan melekat menjadi bingkai amal dihari-hari berikutnya.

Namun, kenyataannya hidup kebanyakan umat islam seolah terbagi atas dua fase, yaitu fase didalam ramadhan dan fase diluar ramadhan. Didalam ramadhan, setiap diri seolah berlomba menjadi hamba Allah SWT sedekat-dekatnya. Lewat Tilawah yang ditargetkan, aurat yang ditutup rapatkan, pembicaraan yang terjaga, amalan jariah yang diperbanyak serta shalat-shalat sunnah yang ditingkatkan.

Diluar ramadhan, umat pun kembali pada selera asalnya. Ibadah khas (mahdhoh) sering terabaikan, maka sunnah pun semakin terlupakan. Nafsu pun seolah kembali menemukan jalan kebebasannya setelah “terkekang” sebulan penuh. Bertaburanlah segenap iri, dengki, hasad, hasud, dan gosip sebagai menu aktivitas sehari-hari.

Seorang teman saya pernah berkata,“Waktu ramadhan, nggak makan seharian enteng aja rasanya, eh begitu masuk Syawal, bawaannya lapeeer mulu.. Tilawah, shalat malam, sedekah juga nggak sekenceng ramadhan. Rasanya susah banget. Padahal, waktu ramadhan kayaknya berbuat baik itu mudaaah banget...kenapa ya ?? “

Ya, pertanyaan ini mungkin tidak hanya menjadi pertanyaan teman saya saja, tetapi menjadi pertanyaan kita bersama, ya bukan ? Mengapa semangat berbuat kebaikan begitu mudah luntur, mengapa ramadhan kita tidak banyak berbekas, kenapa kita tidak bisa menjadi hambanya yang shalih-muslih sekali dan selama-lamanya?

Nyatanya, dalam hidup memang tidak pernah ada kesuksesan yang melekat sekali dan selamanya tanpa dirawat, dijaga dan ditumbuhsuburkan, apapun bentuknya baik itu jabatan tinggi, popularitas, kecantikan, kecerdasan, kekayaan, termasuk keluhuran budi, keimanan, dan perilaku kebaikan..

Orang kaya selalu merawat, menjaga, dan menyuburkan kekayaan mereka lewat rencana finansial dan investasi yang dikaji ulang berkali-kali. Para bintang merawat, menjaga dan menyuburkan kecantikannya dengan rajin ke salon, rutin berolahraga, serta mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi. Para intelektual mengasah ketajaman pikiran dan kecerdasannya dengan terus belajar, rajin membaca, dan kerap bertukar pikiran. Maka, pastilah keimanan dan keshalihan pun harus selalu dirawat, dijaga, dan ditumbuhkembangkan secara maksimal pula.

Al-quran surat Hud ayat 112_116 menjelaskan setidaknya ada empat hal yang bisa dilakukan untuk beristiqomah didalam kebaikan. Pertama, kita harus memunculkan kemauan untuk berpatokan hidup hanya pada arahan Allah SWT dan Rosul-Nya saja. Karena, berawal dari kemauan untuk berpatokan seperti inilah kita bisa membentengi diri kita untuk selalu berada dalam kebaikan. Arahan Allah SWT dan Rosul-Nya membawa diri kita senantiasa terjaga dari sifat-sifat tercela.

Kedua, kita perlu memilah dan memilih lingkungan pergaulan yang baik, yang bisa meneguhkan iman dan keshalihan kita dimasa kuat, mengingatkan kita disaat salah, dan menopang kita disaat lemah. Kalaupun tidak terwujud pada semua area peran kita yang begitu beragam, setidaknya lingkungan kondusif ini terwujud pada sebagian area peran hidup kita. Apalagi dengan usia kita sekarang, sangat rentan terbawa hal-hal yang negatif. Tidak bisa di pungkiri, saat ini banyak sekali remaja Indonesia dan dunia terperangkap dalam lingkaran setan, yakni Free Sex dan Drugs.

Ketiga, tidak bisa tidak, pelaksanaan amal-amal shalih harus dibiasakan untuk kemudian ditingkatkan, baik kuantitasnya, juga kualitasnya. Bermula dari yang rutin ditambah dengan yang sunnah. Bermula dari sedikit, ditingkatkan menjadi banyak. Dimulai dari memaksa diri hingga dijalani dengan penuh kecintaan.

Keempat, kita harus bersabar disegala lini amal. Bersabar dengan pemaksaan dimasa-masa awal, saat begitu lemahnya kemauan kita. Bersabar ditengah perjalanan ketika banyaknya godaan dan tarikan yang nampak menggiurkan, dan bersabar untuk terus mengevaluasi dan memperbaiki diri kita, mana kala kita mulai oleng dengan ketakjuban akan amal shalih diri kita sendiri.

Dengan keempat jalan ini, semoga kobaran semangat amal shalih diwaktu ramadhan seiring tibanya fajar satu Syawal dan seterusnya terus membara dalam keseharian hidup kita, semoga membawa kebaikan dan manfaat bagi kita semua agar tetap menjaga bara kebaikan kapan pun dan dimana pun.

Aaammmiiiiiinnnn...

0 comments:

Post a Comment