August 23, 2009

AIRMATA di Hari Lebaran

Matahari baru saja terbit. Gema suara takbir yang bersahutan sejak tadi sore semakin jelas terdengar dari corong-corong masjid. Orang-orang dengan

pakaian bagus bergegas memasuki sebuah mesjid besar di salah satu jalan

di Jakarta. Kebanyakan mereka memakai busana Muslim dengan kepala ditutupi kopiah. Selembar sajadah terselempang di pundak mereka.

Sebagian wanita tampak sudah memakai mukena sejak berangkat dari rumah.

Sebagian lainnya berpakaian kebaya sambil menjinjing mukena dan sajadah.

Anak-anak tidak lupa dibawa serta.

Meskipun sebagian besar jamaah berjalan kaki, namun tidak sedikit diantara

mereka yang datang ke masjid itu berkendaraan, baik sepeda motor maupun

mobil.Kebanyakan mobil-mobil yang datang dipenuhi oleh seluruh anggota keluarga.

Perasaan gembira tampak jelas pada wajah-wajah mereka yang penuh senyum.

Maklumlah, hari ini adalah Hari Raya Idul Fitri, hari kemenangan umat

Islam, setelah satu bulan lamanya mereka menjalankan ibadah Ramadhan.

Suara takbir semakin menggema. Jamaah semakin padat memenuhi ruangan

masjid yang luas itu. Sebagian mulai tampak membanjiri teras masjid

karena bagian dalam masjid sudah penuh. Sebentar saja, teras pun penuh terisi jamaah.

Beberapa anak kecil memanfaatkan kesempatan itu untuk menawarkan koran

bekas kepada jamaah yang baru datang. Di Jakarta, apa pun bisa dijual,

tak peduli di hari raya seperti ini.

Bukan hanya anak-anak penjaja koran bekas saja yang sedikit "mengganggu

pemandangan"(tm) pagi itu. Beberapa pengemis pun tampak berjejer di depan

gerbang masjid menyambut para jamaah dengan menyodorkan baskom plastik.

Beberapa diantara mereka menggendong bayi yang masih mungil.

Seorang anak laki-laki dengan wajah kusut dan pakaian yang masih kotor

terlihat berdiri di depan gerbang. Sebut saja namanya Husein. Usianya

sekitar tujuh tahun. Ragu-ragu ia memasuki gerbang masjid.

Ia tahu kalau hari ini adalah Hari Raya Idul Fitri, sehingga ia ingin

masuk ke dalam masjid untuk ikut merayakannya dengan sholat Id. Akan

tetapi ia juga sadar kalau keadaan dirinya yang kusut dan tak terurus itu

bisa menjadi pusat perhatian jamaah lain yang berpakaian rapi.

Husein memang mematung di depan gerbang. Beberapa rombongan jamaah yang hendak masuk ke masjid menyadarkan dirinya untuk segera menyingkir dan memberi jalan kepada mereka. Anak itu segera menepi. Diurungkan niatnya untuk masuk ke gerbang masjid.

Kini ia sandarkan tubuhnya di pagar besi yang mengelilingi masjid. Dari

pagar itu ia bisa melihat bagaimana ramainya suasana halaman masjid oleh

para jamaah dengan pakaian baru aneka warna. Anak-anak seusianya tampak

duduk bersila di samping orang tua mereka dengan baju baru, kain sarung

baru dan peci yang juga baru. Kontras sekali dengan dirinya yang lusuh

oleh debu dan pakaian yang kotor.

Terbayang dalam ingatannya ketika tahun-tahun lalu ia masih bisa menikmati

suasana lebaran yang penuh kebahagiaan bersama kedua orang tuanya.

Pagi-pagi, ia sudah dibangunkan oleh tangan lembut ibunya. Terdengar suara

takbir dari masjid dekat rumahnya. Kue-kue dan ketupat tersaji di meja

makan. Ia dan anak-anak seusianya tidak lupa ikut orang tua mereka sholat

dimasjid atau tanah lapang.Tawa canda tampak dari mereka setiap kali

bertemu. Mereka seolah saling memperlihatkan baju baru yang mereka pakai.

Tapi itu dua tahun lalu, ketika kedua orang tuanya masih berada di

sisinya. Sebab beberapa bulan selepas kenangan manis itu, kedua orang

tuanya harus bercerai. Sebagai seorang anak kecil, ia tidak mengerti

mengapa kedua orang tuanya harus bercerai, sehingga ia harus menjadi

korban dari sikap egoisme kedua orang tuanya.

Beberapa bulan kemudian , ia masih bisa merasakan kasih sayang ibunya ,

meski tidak tahu lagi kemana ayahnya pergi. Tetapi lewat tiga bulan dari

perceraian kedua orang tuanya, ibunya terpaksa kawin lagi dengan lelaki

lain. Parahnya, lelaki itu juga membawa ibunya pergi ke Jakarta. Konon,

ayah tirinya itu punya pekerjaan di Jakarta meskipun hanya sebagai pekerja kasar.

Husein sendiri dititipkan kepada neneknya dari pihak ibu. Maklumlah sejak

menikah, ayah dan ibunya memang menumpang di rumah neneknya itu. Karena

itu, Husein sudah dekat dengan sang nenek meskipun tetap saja ia merasakan

kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Kalau saja ia besar, ia ingin

sekali meninggalkan neneknya dan pergi ke Jakarta untuk menyusul kedua orang tuanya.

Sebenarnya, neneknya sendiri tidak memiliki penghasilan yang memadai.

Diusianya yang sudah uzur, ia terpaksa menghidupi dirinya dan cucunya dengan

kerja serabutan. Kadang ia masih ikut menjadi kuli di sawah atau kerja apa

saja yang bisa mendatangkan sesuap nasi bagi dirinya bersama cucunya.

Husein sendiri kerap kali membantu neneknya. Ibunya yang konon ikut

suaminya ke Jakarta tidak kunjung kabar beritanya. Jangankan mengirimkan

uang untuk mereka, mengirimkan kabar saja tidak pernah.

Sampai akhirnya derita yang harus ditanggung Husein mencapai puncaknya

ketika minggu lalu sang nenek pun akhirnya pergi untuk selama-lamanya.

Neneknya meninggal dunia setelah dua hari menderita sakit. Para tetangga

berusaha mencari alamat ibunya untuk mengabari perihal kematian neneknya

itu. Tetapi tak satu pun yang tahu dimana alamat ibu Husein berada.

Akhirnya jenazah sang nenek terpaksa dimakamkan tanpa kehadiran anak

perempuan satu-satunya itu.

Selepas neneknya meninggal, beberapa saudara jauh dari neneknya mencoba

merayu Husein agar mau tinggal di rumah mereka. Akan tetapi Husein

tampaknya tidak bisa menerima kebaikan hati mereka. Mungkin ia merasa

kurang mengenal mereka.

Maklumlah mereka memang saudara jauh yang jarang datang ke rumah neneknya.

Akhirnya, satu hari setelah kematian neneknya, Husein nekad pergi

meninggalkan kampung halamannya. Dengan bekal seadanya, ia pergi ke

Jakarta untuk mencari ibunya. Ia sendiri tidak pernah membayangkan seperti

apa sesungguhnya kota Jakarta. Ia memang pernah melihatnya, tetapi hanya

lewat sinetron di televisi.

Husein pergi ke Jakarta dengan menumpang beberapa kendaraan. Dari

kampungnya di sebuah desa di Jawa Barat, ia menumpang mobil bak terbuka

yang kembali ke kota Kabupaten setelah mengantarkan barang-barang dagangan

seorang pemilik toko.

Beruntung sang sopir mau mengantarkannya sampai ke terminal. Dari terminal

ia menumpang bus jurusan Jakarta dengan gratis karena kebaikan sang

kondektur yang kasihan melihat Husein. Apalagi, seminggu menjelang Idul

Fitri seperti ini, bus yang ditumpanginya justru kosong jika menuju Jakarta.

Sampai di Kampung Rambutan, Husein langsung bertanya ke sana kemari

menanyakan orang-orang yang ditemuinya.

Ia mengira mencari orang di Jakarta sama mudahnya seperti mencari orang di

kampungnya. Ternyata, semua orang yang ditanyainya malah memarahi

kebodohannya yang mencari orang tuanya tanpa kejelasan alamat sedikit pun.

Husein tidak mau menyerah. Ia merasa sudah terlanjur sampai di Jakarta.

Pantang baginya kembali ke kampung halamannya. Apalagi ia merasa sudah

tidak ada lagi saudaranya di kampung halamannya. Untuk apa kembali lagi?

Sementara di ibukota ini, ia masih memiliki peluang untuk menemukan ibunya,

meskipun ia tidak tahu sampai kapan cita-citanya itu bisa terwujud.

Untuk mengganjal perutnya, ia berusaha mengamen dari satu bus ke bus

lainnya tanpa menggunakan alat musik apa pun. Ia mengamen hanya

bermodalkan suara dan tepuk tangannya saja. Jika malam menjelang, ia

mencari tempat tidur di pinggir-pinggir toko atau terminal. Beruntung ia

belum pernah dijahili oleh para preman.

Dan pada hari kelima kedatangannya di Jakarta, Idul Fitri pun tiba.

Suara orang ramai keluar dari masjid menyadarkan lamunan Husein. Anak-anak

seusianya berlarian dengan baju baru. Sebagian lainnya bergandengan tangan

dengan ibu bapaknya. Tiba-tiba Husein kembali teringat ibu bapaknya. Wajah

neneknya juga berkelebat di benaknya. Tanpa disadari, setetes air hangat

terbit di sudut kelopak matanya. Ia benar-benar merindukan orang-orang

yang dicintainya itu.

Ternyata, tanpa ia sadari, sepasang suami isteri yang mobilnya harus antri

keluar dari gerbang masjid, memperhatikan tingkah lakunya. Mereka trenyuh

menyaksikan seorang anak yang berwajah polos dengan penampilan kusut

tampak melamun menerawang denga air mata yang tak mampu ditahan. Mereka

tidak bisa membayangkan bagaimana jika nasib serupa menimpa anak-anak

mereka, meskipun sampai saat ini mereka belum juga dikaruniai seorang anak.

Suasana gerbang masjid yang semrawut membuat mobil pasangan yang sudah

tujuh tahun belum dikaruniai anak ini tidak bisa bergerak. Entah apa yang

menggerakkan hati wanita itu, ketika tiba-tiba ia membuka pintu mobil.

Sejenak ia menatap wajah suaminya. Mata sang suami tampak memberi isyarat

kalau ia menyetujui tindakan isterinya.

Sang isteri bergegas menghampiri Husein yang hendak bersiap pergi

meninggalkan tempat itu. Sedikit gugup dan agak kesulitan untuk memulai

menyapa Husein, perempuan yang sudah lama merindukan hadirnya seorang anak

dalam rumah tangganya itu, akhirnya memberanikan diri menuruti naluri rasa

sayangnya menyapa Husein.

"Ibumu dimana?" tanya perempuan itu. Husein terkejut bukan kepalang. Ia

tidak mengira kalau perempuan itu ternyata menyapanya. Padahal, ia belum

sempat menyeka air matanya.

Husein tidak mampu menjawab pertanyaan lembut itu. Ia seolah menemukan

kelembutan seorang ibu yang begitu lama dirindukannya. Ia hanya mampu

menggeleng karena air matanya semakin deras mengucur di pipi.

"Dimana ibumu?" tanya wanita itu lagi.

Husein berusaha keras melawan perasaannya, tetapi ia tidak mampu.

Berkali-kali ia mencoba mengusap air matanya, tetapi air bening itu seolah

tumpah begitu saja, tak mampu dibendungnya.

Perempuan itu tampaknya semakin penasaran sekaligus merasa kasihan kepada

Husein. Ia segera membungkuk, lalu duduk berjongkok agar bisa lebih dekat

lagi dengan anak malang itu. Diberanikan dirinya untuk menyentuh kepala

Husein. Lalu ia mengusapnya perlahan-lahan.

"Siapa namamu?" tanya wanita itu sambil menatap wajah Husein. Wanita itu

melihat kepolosan di mata anak itu, juga duka yang begitu dalam. Tampaknya

ia bisa membaca kepedihan dan duka Husein.

Mendapat perlakuan penuh kasih seperti itu, Husein semakin haru. Ia tidak

habis pikir. Betapa tidak, hampir satu minggu ia menjelajah ibukota

mencari ibunya, tetapi tak ada satu orang pun yang bersikap baik padanya,

apalagi menunjukkan perhatian yang begitu besar seperti wanita ini.

Sambil mengusap air matanya, ia mencoba memandang wanita itu. Wanita itu

masih memandangnya dengan tatapan penuh kasih seorang ibu. Aneh, tiba-tiba

perasaan haru yang besar merayap di hati Husein. Ia seolah merasakan kembali

tatapan dan kasih sayang ibunya yang sudah lama tidak dirasakannya. Tanpa

sadar, ia memeluk wanita itu, seolah memeluk ibunya sendiri yang begitu

lama tidak pernah mendekapnya. Air mata pun semakin deras mengalir dari

pipinya membasahi busana Muslimah wanita itu.

Wanita itu segera menyambutnya. Ia mengelus punggung anak malang itu.

Tanpa terasa, air matanya ikut menitik dan jatuh di pipinya. Ia bisa

merasakan kesedihan dan kerinduan seorang anak yang mendambakan kehangatan

orang tuanya. Perlahan ia lepaskan pelukannya dan dipegangnya pundak

Husein dengan lembut.

"Kamu tinggal dimana?" tanya wanita itu penuh harap.

Matanya benar-benar menyelidik, berharap Husein segera menjawabnya,

saya tidak punya rumah di sini. Saya mencari ibu. Katanya ibu ke

Jakarta,"jawab Husein.

"Dimana tinggalnya?" tanya wanita itu lagi.

Husein menggeleng, tetapi kemudia ia berucap, "Sudah hampir setahun ibu

pergi. Saya tidak tahu kemana. Kata nenek, ibu dibawa bapak tiri saya ke

Jakarta. Jadi saya pergi ke Jakarta. "Dimana nenekmu?" tanya wanita itu.

"Nenek meninggal satu minggu yang lalu di kampung. Saya, saya tinggal

sendiri. Bapak sudah lama pergi. Bapak kawin lagi. Saya tidak tahu

dimana," cerita Husein.

Mendengar pengakuan polos Husein, wanita itu semakin terharu. Naluri

keibuannya yang lembut membuatnya tak mampu menahan tetesan air bening

yang perlahan merambat di pipinya. Suaminya yang sejak tadi menunggu di

mobil yang sudah menepi, akhirnya turun juga. Ia bisa melihat keharuan di

mata isterinya, didekatinya isterinya sambil berjongkok memandang Husein.

"Maukah kamu menganggap saya ibumu?" tanya wanita itu.

Husein tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya mampu memandang sebentar

sepasang suami isteri yang menatapnya penuh haru dan kasih. Ia

membayangkan, betapa bahagianya jika dua orang di depannya itu adalah ayah

dan ibunya, dua orang yang begitu dirindukannya.

"Maukah engkau tinggal bersama kami? Anggaplah kami orang tuamu," ujar

wanita itu dengan suara sedikit bergetar. Husein semakin terharu. Perlahan

ia tegakkan kepalanya yang sejak tadi lebih banyak tertunduk.

Mata polosnya menatap sepasang suami isteri di depannya dengan penuh tanya.

"Ikutlah dengan kami," tiba-tiba suami perempuan itu ikut bicara. Ia

memegang bahu Husein. Lagi-lagi Husein tidak mampu menahan harunya. Ia

rebahkan wajahnya di bahu lelaki itu. Air matanya belum juga reda. Isteri

lelaki itu kembali mengusap kepala Husein.

Jangan takut, Nak. Meskipun orang tuamu belum engkau temukan, kami

bersedia menjadi pengganti mereka. Jadilah anak angkat kami," bujuk isterinya lagi.

Suami wanita itu mengangkat kepala Husein dan kembali memandangnya dengan

penuh rasa sayang. Sorot matanya menunjukkan betapa ia benar-benar ingin

mengajak Husein menjadi bagian dari keluarganya.

"Ikutlah dengan kami. Jadilah anak angkat kami," ucap lelaki itu sambil

memegang tangan kanan Husein. Isterinya pun segera berdiri dan memegang

tangan kiri Husein.

Tanpa bisa menolak lagi, Husein pun mengikuti kedua pasangan suami isteri

itu menuju mobil mereka. Begitu mobil dibuka, Husein berhenti sebentar. Ia

ragu-ragu. "Tak apa. Masuklah! Anggaplah kami orang tuamu!" ujar si suami.

Setelah Husein masuk, mobil pun segera pergi diikuti tatapan jamaah lain

yang tampak keheranan.

Sejak saat itu, Husein tinggal di rumah pasangan suami isteri tadi. Ia

dianggap anak oleh mereka. Tapi, Husein tetap tidak menyerah. Ia terus

berusaha menemukan kedua orang tuanya meskipun sampai hari ini, setelah

satu tahun kedatangannya di ibukota, usahanya tetap sia-sia.

Husein hanyalah salah satu contoh dari anak-anak yatim yang masih

beruntung karena masih ada orang yang mau mengasihinya. Masih banyak

anak-anak kita yang berkeliaran di jalan-jalan tanpa seorang pun yang

peduli apalagi melindungi dan mengasihi mereka. Semoga di hari yang fitri

nanti kita bisa berbagi kebahagiaan kepada mereka yang kurang beruntung,

terutama anak-anak yatim di sekitar kita.

Amiin.

Hidayah, Intisari Islam)

0 comments:

Post a Comment