August 31, 2009

Cybercrime-Illegal Contents

Sejalan dengan kemajuan teknologi informatika yang demikian pesat, melahirkan internet sebagai sebuah fenomena dalam kehidupan umat manusia. Internet, yang didefinisikan oleh TheU.S. Supreme Court sebagai: "international network of interconnected computers" (Reno v. ACLU, 1997), telah menghadirkan kemudahan-kemudahan bagi setiap orang bukan saja sekedar untuk berkomunikasi tapi juga melakukan transaksi bisnis kapan saja dan di mana saja.

Pada perkembangannya, ternyata penggunaan internet tersebut membawa sisi negatif, dengan membuka peluang munculnya tindakan-tindakan anti-sosial dan perilaku kejahatan yang selama ini dianggap tidak mungkin terjadi. Sebagaimana sebuah teori mengatakan: "crime is a product of society its self", yang secara sederhana dapat diartikan bahwa masyarakat itu sendirilah yang melahirkan suatu kejahatan. Semakin tinggi tingkat intelektualitas suatu masyarakat, semakin canggih pula kejahatan yang mungkin terjadi dalam masyarakat itu.

Kejahatan yang lahir sebagai dampak negatif dari perkembangan aplikasi internet ini sering disebut sebagai cybercrime. Walaupun jenis kejahatan ini belum terlalu banyak diketahui secara umum, namun The Federal Bureau of Investigation (FBI) dalam laporannya mengatakan bahwa tindak kejahatan yang dapat dikategorikan sebagai cybercrime telah meningkat empat kali lipat sejak tiga tahun belakangan ini.

Dalam beberapa literatur, cybercrime sering diidentikkan sebagai computer crime. TheU.S. Department of Justice memberikan pengertian computer crime sebagai:"…any illegal act requiring knowledge of computer technology for its perpetration, investigation, or prosecution". Pengertian lainnya diberikan oleh Organization of European Community Development, yaitu: "any illegal, unethical or unauthorized behavior relating to the automatic processing and/or the transmission of data". Andi Hamzah dalam bukunya Aspek-aspek Pidana di Bidang Komputer (1989) mengartikan: "kejahatan di bidang komputer secara umum dapat diartikan sebagai penggunaan komputer secara ilegal".

Dari beberapa pengertian di atas, computer crime dirumuskan sebagai perbuatan melawan hukum yang dilakukan dengan memakai komputer sebagai sarana/alat atau komputer sebagai objek, baik untuk memperoleh keuntungan ataupun tidak, dengan merugikan pihak lain. Secara ringkas computer crime didefinisikan sebagai perbuatan melawan hukum yang dilakukan dengan menggunakan teknologi komputer yang canggih (Wisnubroto, 1999). Kejahatan yang berhubungan erat dengan penggunaan teknologi yang berbasis utama komputer dan jaringan telekomunikasi ini dalam beberapa literatur dan prakteknya dikelompokan dalam beberapa bentuk, salah satunya adalah Illegal Contents. Dimana hal ini merupakan kejahatan dengan memasukkan data atau informasi ke internet tentang sesuatu hal yang tidak benar, tidak etis, dan dapat dianggap melanggar hukum atau mengganggu ketertiban umum. Sebagai contohnya adalah pemuatan suatu berita bohong atau fitnah yang akan menghancurkan martabat atau harga diri pihak lain, hal-hal yang berhubungan dengan pornografi atau pemuatan suatu informasi yang merupakan rahasia negara, agitasi dan propaganda untuk melawan pemerintahan yang sah, dan sebagainya.



Contoh Kasus :

Belakangan ini marak sekali terjadi pemalsuan gambar yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dengan cara mengubah gambar seseorang (biasanya artis atau public figure lainnya) dengan gambar yang tidak senonoh menggunakan aplikasi komputer seperti photoshop. Kemudian gambar ini dipublikasikan lewat internet dan ditambahkan sedikit berita palsu berkenaan dengan gambar tersebut. Hal ini sangat merugikan pihak yang menjadi korban karena dapat merusak image seseorang. Dan dari banyak kasus yang terjadi, para pelaku kejahatan ini susah dilacak sehingga proses hukum tidak dapat berjalan dengan baik.



Solusi :

  • Tidak memasang gambar yang dapat memancing orang lain untuk merekayasa gambar tersebut sesuka hatinya

  • Memproteksi gambar atau foto pribadi dengan sistem yang tidak dapat memungkinkan orang lain mengakses secara leluasa

  • Melakukan modernisasi hukum pidana nasional beserta hukum acaranya, yang diselaraskan dengan konvensi internasional yang terkait dengan kejahatan tersebut

  • Meningkatkan sistem pengamanan jaringan komputer nasional sesuai standar internasional

  • Meningkatkan pemahaman serta keahlian aparatur penegak hukum mengenai upaya pencegahan, investigasi dan penuntutan perkara-perkara yang berhubungan dengan cybercrime

  • Meningkatkan kesadaran warga negara mengenai masalah cybercrime serta pentingnya mencegah kejahatan tersebut terjadi

  • Meningkatkan kerjasama antar negara, baik bilateral, regional maupun multilateral, dalam upaya penanganan cybercrime, antara lain melalui perjanjian ekstradisi dan mutual assistance treaties yang menempatkan tindak pidana di bidang telekomunikasi, khususnya internet, sebagai prioritas utama.

















August 30, 2009

Komodo National Park

Komodo National Park was established in 1980 and listed by UNESCO as a World Heritage Site in 1986. The total area of the park is 1,817 km², of which a third is terrestrial land areas, including the islands of Komodo, Rinca, Gili Mota, Nusa Kode and Padar, while the remaining area consists of marine waters, including coral reefs, sea grass beds, mangrove, and semi-enclosed bays.

Komodo National Park was established in 1980 and listed by UNESCO as a World Heritage Site in 1986. The total area of the park is 1,817 km², of which a third is terrestrial land areas, including the islands of Komodo, Rinca, Gili Mota, Nusa Kode and Padar, while the remaining area consists of marine waters, including coral reefs, sea grass beds, mangrove, and semi-enclosed bays.

After 10 years of work supporting the natural resources of Komodo National Park, The Nature Conservancy's Coral Triangle Centre (previously named South East Asia Centre for Marine Protected Areas) has successfully transferred its programme to a new eco-tourism development enterprise PT Putri Naga Komodo (PNK). This signifies the start of the Komodo Collaborative Management Initiative (KCMI), a path breaking model for saving Indonesia's national parks.

The new enterprise company is set up solely to develop eco-tourism, promote conservation activities, and to support natural resource management and park operations within the Komodo National Park. Although legally organised as a private company, PNK's charter provides that all revenues will be used to support the management and development of Komodo National Park and the development of alternative livelihoods and enterprises for local residents.

PNK is working closely with the Komodo National Park Authority, the District Government of West Manggarai, local communities, the tourism sector and other stakeholders. The goal is to implement an innovative and multi-disciplinary approach to achieve long-term financial sustainability of the park through professional park and conservtion management, sustainable eco-tourism development and destination marketing.

PNK-supported conservataion activities include a comprehensive set of biological monioring programmes for both the marine and terrestrial eco-systems of the park, including continuous assessment of resource use and tourism impacts. PNK will also undertake upgrading of eco-tourism infrastructure to improve safety and enhance the experience of those visiting the park.

The new company is Putri Naga Komodo or Dragon Princess, who in local legend was said to have given birth to twins - a human boy and a Komodo dragon, symbolising the essential identity of humans and nature. PNK has acquired a 30-year license from the Indonesian Ministry of Forestry to generate park revenues through the development and management of nature tourism in Komodo National Park. The new company is staffing up its key managerial positions while most of the Conservancy's Komodo Field Office staff have moved over to work with PNK.

To kick-start the project, PNK has obtained bridging funding from the World Bank's Global Environmental Facility. The 7 year US$ 5 million grant is provided through the World Bank's private sector financing arm, the International Finance Corporation (IFC) with matching funds from the Conservancy. By the end of the grant period (in 2012), it is expected that the park will be generating sufficient eco-tourism revenues to sustain ongoing management and conservation work.



Dragons On Land, Paradise Underwater

Approaching the islands of Komodo and Rinca on an Indonesian liveaboard boat, you will feel like one of the voyagers of old who gave fame to the islands by marking on a map "Here Be Dragons"!

Pygmy seahorse in Komodo - Indonesia - photo courtesy of Komodo Dancer

Few places enjoy Komodo's reputation for being a remote and inspiring place and diving Komodo and the surrounding area evokes the same feelings. These small, brown scorched-earth islands fringed with sandy beaches are lapped by the clear waves of the national park, where you may even see the dragons patrolling the beach or viewing you from a high rocky outcrop.

Unlike other parts of Indonesia, the reefs around the south of the islands have suffered relatively little damage from dynamite fishing. Much of the area now lies within the protection of the national park. The shallow reefs between Flores and the northern region however, were bombed in the past but are now recovering their former splendour. The affected area covers around 15% of the archipelago, and even here steep drop-offs and current-swept points offer excellent Komodo diving.

Besides the sheer excitement of simply being somewhere like Komodo, you are also cruising over some of the most exciting dive sites in Indonesia. The water is not always warm, in fact it can be decidedly cool. The seas are not always calm, in fact the currents can rage. But the abundance of pelagics, more critters and interesting macro-action than you could imagine, the dazzling colours and diversity, make diving here truly the stuff of legend.

Ambarawa

Ambarawa located in northwest edge of Rawa Pening, around 38 kms side town south Semarang. Encircled some big mounts ( G.Ungaran, G. Merbabu, G. Telomoyo, G Kelir) and some hills ( G.Kendalisodo, G. Potro, G. Kendil, G Gajah), makes district town of ex- this Kawedanan Ambarawa will hidden in base a giant frying-pan. most located Ngampin Countryside region west Kecamatan Ambarawa, abuts on Kecamatan Jambu. Center countryside ( countryside hall office) located in front of house Mbah Tajib, at point of 7° 15 ' 488" LS and 110° 23 ' 177" BT, that is precise 2 km westside zero Ambarawa, or 40 kms from town Semarang. Height at point of this is 486 m to sea surface.

Administratively included in region Kabupaten Semarang, Central Java Province. Geographically, its(the kilometre zero lays in 7°15 ' 278" LS and 110° 24 ' 195" BT, that is in bridge Kali Panjang with height of place of 500 m to sea surface.

Form of fisiografis region Desa Ngampin marginally divisible in 3 part; part of south ( train rail to a point countryside south) flat physiography with mean bevel < 3%, with main land use of wet ricefield dependant to rain and irrigation of simple. Partly small dry farmings and mixture garden.

Centered ( between train rails and roadway) physiography wavies until surging with bevel 3-15%. Main land use of settlement, mixture garden and dryland farming.

Upstate ( roadway to a point north countryside), surging physiography, hilly until having mount with bevel > 15%. Main land use of dryland farming in north boundary, and settlement and mixture garden around roadway.

August 26, 2009

RINJANI NATIONAL PARK

This is my favorit place that I wanna go someday soon..Mt. Rinjani..
with a beautiful lake, nature, and panorama..


The national park extends over an area of 41,330 ha, with the surrounding protected forest covering 51,500 ha. Community based activities are conducted in conjunction with the Rinjani centre in Senaru. Mount Rinjani and Segara Anak Lake located in the north of Lombok 85 kilometers from Mataram.

Mt. Rinjani is the second highes peak in Indonesia standing at majestic 3726 meters, part of the celebrated ”ring of fire”. The dramatic landscape has been created over a millions of years of cone-building, violent explosions, and erosion. Forested slopes rising directly from the sea create their own weather pattern and act as water – collectors for the whole Lombok.

For the people of Lombok Sasak and Balinese alike, treat this mountain as a sacred place. They consider the Gods live at the summit of the mountain. One of the large craters called Segara Anak, located at 2000 meters above the sea level is the destination of many pilgrims, who make the annual trek up the step slopes in order to place offerings to the Gods in the lake it self. This magnificent crater lake now holds a new and active volcano, Mount Baru Jari which appeared this century. On the north side of the lake is a hot spring ( one of 4 Segara Anak hot springs found here) which is said to cure disease.

A model for echo tourism in Indonesia, It is trully an unforgetable experience to climb such impressive mountain as Rinjani and the 2 trek expeditions that offered and the spectacular scenery cwere contributing factors to Tinjani National Park winning the National Geographic World Tourism Award in 2004..



gO..gO..gO..!!!!

Fatahillah Museum


This museum is located at Jalan Taman Fatahillah No. 1, in down-town Jakarta and it is the oldest building in Jakarta. This building was originally used as Town Hall of Batavia, which was built and inaugurated in 1710. At first, activities in this building besides dealing with government affairs, also dealt with marriage, judicial and trade affairs, making people in the past know it as “Speaking Building”. After Indonesia gained its independence, the building was once used as Quarter of Military District 0503 of West Jakarta. Approaching 1970, it was preserved by Jakarta City Government and on April 4, 1974 it was officially made Museum of History of Jakarta.

The museum features the historical development of the city, using a display of various kinds of furniture, chinaware, a map of Jakarta from the 18th century, portraits of Batavia’s Governor General, European porcelains used by them, stoneware, old gravestones, kitchen utensils, coins, etc. There are among other, the replica of the Tugu Inscription from the age of Great King Purnawarman, forming evidence that the center of the Kingdom of Tarumanegara was located in around the seaport of Tanjung Priok. Further, the historical evidence of the age of Sunda Kelapa Harbour is represented by a map of the 16th century and the replica of the Padrao monument of the Portuguese. At The period of Jayakarta, and the beginning of the establishment of the City the Bronze cannon and through various drawings and maps of the 17th century. Collection of furniture of Betawi style from the 17th, 18th and 19th century is the richest collection and belongs to the most complete one in the world. This collection is very interesting since it’s reflects the association of the community of the City of Batavia with various cultural elements from Europe, especially Dutch, China, India and Indonesia.

An Old Portuguese cannon is in front of the museum with an inscription in Latin reading: Ex Me Ipsa Renata Sum (I am reborn from myself). Its exact origin is not known but people call the cannon “Si Jagur” and many believe that it possesses certain mystical powers. Childless women go there to make offerings of flowers, hoping to be blessed with children.

Jl. Taman Fatahillah No. 1 Central Jakarta • Ph.: 62-21 692 9101
Open : Tuesday – Sunday : 09.00 am – 03.00 pm
Closed : Monday/Public holiday

SETU BABAKAN



Setu Babakan is a great visage of the traditional life in Jakarta which is located in Srengseng Sawah district of South Jakarta.

A colourful kaleidoscope of tradition await every bisitor at this 66-hectare area known as Perkampungan Budaya Betawi or the Betawi Culture Preservation Village. Setu itself means a small lake used by the Betawis. As the name suggests, Setu Babakan is surrounded by an 18-hectare area of water which provides the tranquil setting for a meaningful and nuanced cultural exploration.Be prepared to get an awesome insight into the Betawi culture such as the lenong ( a traditional Betawi comedy play), topeng dance, Betawi traditional wedding and of course the iconic Ondel-ondel, a giant puppet dressed in a traditional Betawi costume with a colorful tinsel crown. In addition, explore a traditional Betawi house built back in the 1920s. Rent a duck boat to ride on the lake to complete your visit.

People here still speak the unique Betawi dialect, which is a conflation of Malay dialect influenced by the Balinese language for the grammar and Hokien Chinese for the vocabulary. Interact with the friendly Betawis and get up close and personal with their notable blend of music such as the Rebana, Keroncong and Samroh which are largely influenced by the Portuguese and Arabic.

Best time to visit is between June and July where special festivals are organised to commemorate Jakarta's anniversary.

August 25, 2009

Detik-detik Wafatnya Rasulullah

Oleh:

Dr. H. Rusli Hasbi, MA

Dosen Ilmu Tafsir Fakultas Dirasah Islamiyyah UIN Jakarta



Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun dan menerima wahyu yang pertama sewaktu beliau berada di gua Hira’. Sejak itu beliau mulai berdakwah memperkenalkan ajaran Islam kepada penduduk Mekkah. Selama 13 tahun berkecimpung dalam dakwah, mempertahankan, dan memperjuangkan syiar Allah di Mekkah tidak sedikit tantangan dan rintangan yang beliau hadapi. Beratnya tantangan yang dihadapi menyebabkan beliau hijrah ke Madinah dan di sana beliau diterima dengan tangan terbuka. Beliau berdakwah di Madinah kurang lebih selama 10 tahun, sehingga akhirnya Islam menjadi agama yang sempurna dan diterima luas oleh masyarakat.


Masa Sakit
Akhirnya pada tahun 11 Hijrah, pada awal bulan Rabi’ul Awwal Rasulullah mulai sakit-sakitan. Meskipun dalam kondisi sakit beliau tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah dengan para sahabat di masjid. Ini yang perlu kita garis bawahi. Dalam kondisi sakit pun Rasulullah tetap melakukan shalat berjamaah di masjid. Hal ini sangat berbeda dengan yang kita lakukan sekarang. Jangankan dalam kondisi sakit, ketika sehat pun kita sangat jarang berhubungan dengan masjid.

Sebenarnya Nabi telah memberikan isyarat kepada para sahabat bahwa sakitnya tersebut adalah sakit yang akan membawanya kapada kematian. Namun, para sahabat tidak menyadarinya kecuali Abu Bakar r.a. Suatu hari setelah shalat berjamaah beliau naik ke mimbar untuk menyampaikan sesuatu. Setelah memuji Allah dan berselawat kepada diri dan keluarganya, beliau berkata:
Innallaha khayyara ‘abdan baina ad-dunya wabaina ma ‘indahu. Fa ikhtara zalika al-’abdu ma ‘indallahi…. “Sesungguhnya Allah telah memberikan pilihan kepada seorang hamba untuk memilih antara kehidupan dunia dan apa yang ada di sisi-Nya di kehidupan akhirat. Hamba tersebut memillih apa yang ada di sisi Allah di kehidupan akhirat.”
Tidak satupun dari sahabat yang hadir mengerti bahasa yang disampaikan Nabi tersebut. Hanya Abu Bakar yang menangis tersedu-sedu karena hati dan perasaan beliau yang begitu dekat dengan Nabi. Hatinya berkata bahwa Nabi akan segera berpulang menghadap sang Khalik. Abu Bakar tahu bahwa hamba yang dimaksud adalah Nabi sendiri dan hari-hari beliau yang tersisa tinggal sedikit. Beberapa hari kemudian sakit Nabi bertambah parah dan beliau tidak sanggup lagi bangun dari tempat tidur. Nabi lalu meminta Abu Bakar untuk menjadi imam menggantikannya. Lihatlah betapa dalam kondisi sakit parah sekalipun Rasulullah tetap memikirkan umatnya.


Masa-masa Kritis
Di tengah masa-masa kritisnya, Nabi meminta izin kepada istri-istrinya untuk tinggal di tempat Aisyah, seorang istri yang paling disayangi di antara beberapa istri beliau. Beliau dirawat oleh Aisyah dan Fatimah putri kesayangannya. Fatimah adalah satu-satunya anak Nabi yang masih hidup pada waktu itu. Selama sakit, setiap hari Fatimah menjenguk ayahnya dan biasanya tiap kali ia memasuki kamar Nabi, beliau selalu berdiri menyambutnya dan mengajaknya duduk di sampingnya. Begitu besar cintanya kepada Fatimah. Di sini ada satu lagi pelajaran. Seorang Nabi berdiri menyambut kedatangan anaknya, bukan seperti kita yang tidak bergerak menunggu anak datang mencium tangan kita. Rasulullah tidak demikian, dia berdiri dan menghampiri anaknya yang datang.

Namun pada hari wafatnya Nabi tidak sanggup lagi untuk bangun menyambutnya. Akhirnya, Fatimah pun duduk di samping beliau. Nabi kemudian mengatakan sesuatu yang membuat Fatimah menangis, sesaat kemudian Nabi berkata-kata lagi dan kali ini Fatimah tersenyum. Di kemudian hari setelah Nabi wafat Fatimah ditanya tentang apa yang dibisikkan Nabi kepadanya. Fatimah berkata, “Ayah memberitahuku bahwa ini adalah sakitnya yang terakhir, akupun menangis karena sedih. Sesaat kemudian ayah mengatakan bahwa aku adalah orang pertama yang akan menyusulnya, lalu akupun tersenyum karena gembira”. Sungguh sebuah percakapan yang mengharukan antara ayah dan anak.

Pada saat sakaratul maut, Nabi berusaha menahan rasa sakitnya dengan mengusap-usap wajahnya dengan air yang tersedia dalam mangkok di sampingnya sambil berkata Allahumma a’inni ‘ala sakaratil maut ..”Ya Allah bantulah aku dalam menghadapi sakitnya sakaratul maut”. Saat itu kepala beliau berada dalam pangkuan Aisyah istrinya tercinta. Aisyah mendengar Rasul berujar bal ar-rafiq al-’ala (Hanya Tuhanku yang Maha Tinggi dan Agung). Dengan terharu Aisyah berkata, “Engkau telah diberikan pilihan dan inilah pilihanmu, demi Zat yang telah mengutusmu dengan kebenaran”. Sesaat kemudian Rasul pun menghadap sang Khalik dengan tenang dan diiringi oleh istri dan anaknya tercinta serta puluhan sahabat yang menunggu di luar rumah.


Setelah Rasulullah Meninggal
Berita wafatnya Nabi dengan segera menyebar ke masyarakat. Kaum muslimin berduyun-duyun mendatangi rumah Rasulullah dengan perasaan sedih, bingung dan histeris. Bahkan ada yang tidak bisa menerima dan percaya bahwa Nabi sudah tiada, termasuk Umar bin Khattab. Dengan menghunus pedang, Umar mengancam akan membunuh siapa saja yang mengatakan Rasulullah sudah meninggal. Umar histeris sambil mengatakan bahwa Nabi tidak meninggal tetapi Nabi hanya pergi sebentar menemui Allah dan akan kembali kepada umatnya, seperti yang terjadi ketika Nabi Musa bin Imran yang pergi meninggalkan kaumnya dan kembali lagi setelah 40 hari. Lihatlah betapa dalam rasa cinta sahabat terhadap Nabi. Wafatnya Rasulullah bisa menghilangkan akal sehat seorang Umar yang terkenal tegas dan keras.
Sesaat kemudian Abu Bakar masuk dan membuka kain penutup wajah Nabi, mengecupnya lalu menangis tersedu-sedu. Abu Bakar berkata, “Demi ayah dan ibuku, engkaulah yang terbaik dalam hidup dan matimu. Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, Allah tidak akan pernah menyakitimu”. Itulah ungkapan hati dari seorang penasehat, sahabat, mertua, dan sekaligus pengikut setia.
Abu Bakar kemudian keluar rumah dan meminta kaum muslimin yang hadir untuk duduk. Mereka pun menurutinya, kecuali Umar r.a. yang masih belum bisa mengendalikan emosinya. Abu Bakar meminta Umar untuk duduk, maka ia pun menurutinya. Lalu Abu Bakar berpidato, “Siapa saja yang menyembah Muhammad maka ketahuilah bahwa Muhammad telah tiada. Dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah itu hidup dan tidak akan pernah mati.” Kemudian ia membacakan ayat Al-Quran Surah Ali ‘Imran ayat 144 yang bunyinya: wama Muhammadun illa Rasulun qad khalat min qablihi ar-rusulu. Afa-in mata aw qutila inqalabtum ‘ala a’qabikum. Wa man yanqalibu ‘ala a’qibaihi falan yadhurru allaha syai-an wa sayajzi allahu asy-syakirina. Artinya: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berpaling ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
Mendengar pidato Abu Bakar tersebut, kaum muslimin pun menangis sedih dan akhirnya mereka menyadari bahwa inilah kehendak Allah yang harus mereka terima.
Nabi meninggal pada usia 63 tahun dengan tidak meninggalkan harta benda berharga apapun. Nabi Muhammad adalah seorang pemimpin hebat, tetapi hidupnya sangat sederhana. Hal ini semestinya menjadi contoh bagi pemimpin sekarang. Semoga Allah selalu memberikan rahmat dan petunjuknya kepada kita semua.


Kesimpulan
Kisah di atas menyajikan banyak pelajaran buat kita, di antaranya:
  • Sakit bukan alasan untuk meninggalkan shalat. Banyak di antara kaum muslimin yang selama usia sehatnya selalu rajin ke masjid mendirikan shalat, tetapi beberapa hari menjelang kematiannya secara total meninggalkan shalat. Sikap meninggalkan shalat semacam ini sangat disayangkan.
  • Ketika Nabi SAW ditawarkan sebuah pilihan: kehidupan di dunia atau kehidupan di sisi Allah, Nabi SAW dengan tidak ragu-ragu memilih yang kedua. Inilah sikap muslim yang selalu dekat dengan Allah, dan inilah pula sikap yang benar (bukannya malah takut mati seperti umumnya manusia sekarang.)
  • Nabi SAW menunjukkan kasih sayang pada anak dan terus menjaga hubungan baik dengan anaknya. Orangtua harus meniru sikap Nabi yang menyayangi dan menghargai anak-anak, tidak hanya dengan berdiri menyambut kedatangan mereka tetapi juga dalam arti seluas-luasnya.
  • Keluarga Nabi seluruhnya hadir pada detik-detik Rasulullah menghembuskan nafas yang terakhir. Usahakan ini pulalah kondisi keluarga kita pada saat salah seorang dari anggota keluarga kita akan menjumpai Tuhannya. Anak jangan sampai tidak menemani orangtuanya yang sakaratul maut, walaupun harus meninggalkan pekerjaan yang nilainya berpuluh-puluh milyar sekalipun. Jadilah anak yang shaleh dengan berusaha hadir di samping orangtua saat sakaratul maut, jangan hanya mendengar dari jauh kabar kesakitan dan kematiannya.
  • Kita boleh bersedih dan menangis di saat orang dekat kita menghadapi sakaratul maut atau meninggal dunia. Tapi jagalah perasaan sedih tersebut, jangan sampai berlebih-lebihan seperti meratapi si mayat atau memukuli diri sendiri.
  • Seperti dicontohkan Nabi, hanya keluarga dekat sajalah yang menemani saat-saat terakhir anggota keluarga kita. Teman-teman, anggota masyarakat, tetangga cukup menunggu di luar. Tidak usah bergabung beramai-ramai menyaksikan orang yang sedang menjelang ajal.
  • Dalam menghadapi sakaratul maut mintalah agar disediakan air untuk mengusap wajah sambil membaca Allahumma a’inni ‘ala sakaratil maut. Mudah-mudahan Allah mengurangi sakitnya sakaratul maut.
  • Sekeras apapun kepribadian Anda, hendaklah Anda tunduk kepada kebenaran. Umar langsung menjadi “dingin” dan menerima berita kematian Rasulullah setelah mendengar ayat-ayat Al-Quran yang menegaskan adanya kematian bagi Rasul. Hati seorang mukmin seyogyanya lembut sekeras apapun watak dan perilakunya.
  • Contohlah kehidupan sederhana Rasulullah. Jangan terlena dengan gemerlapnya kehidupan dunia sehingga kita terjauh dari nilai-nilai hidup sederhana yang dicontohkan Rasulullah. Sukses tidak ditentukan oleh kemewahan duniawi, tapi oleh kedekatan seseorang dengan Allah SWT. (25/e)

August 24, 2009

Normalkan Aku

Berharap smua ini hnya mimpi.
Mimpi dr tidurku yg pnjang..
Berharap bila ku terjaga nanti,mimpi itu segera pergi..Dan smuany akan baik2 saja..normal!

Tp mungkinkah ini mimpi??
Ku ingin ada yg mengalihkan perhatianku..
Hingga tak ingin berada dlm masa ini..
TIDAK..!!

Aku sperti tertekan oleh waktu..Oleh keadaan..knapa ini terjadi..??
Aku tak bisa..

August 23, 2009

KAMU CANTIK !!!!

Saya cantik nggak sih?
Dulu saya pasti akan bilang: saya tidak cantik, saya mungkin bukan perempuan yang akan dilirik pria manapun.

Secara fisik...kulit saya terlalu sawo matang kalau tidak bisa dibilang hitam, hidung saya terlalu besar, badan saya gemuk, tidak banyak pilihan pakaian untuk saya.... belum lagi gigi yang tidak serapi orang lain....
Dari segi kepintaran, ya standar-lah. Tidak terlalu pintar, meski sudah pasti tidak bodoh. Dari segi harta, saya ini orang yang sederhana...

Setiap berjalan dengan perempuan mana pun, ialah yang akan dilirik, dan saya yang diabaikan. Kecuali bila saya diberi kesempatan bicara, barulah orang mulai memperhatikan saya. Ketika saya bergabung di teater, maka saya adalah orang yang paling sering mendapat peran yang aneh. Kalau ada peran untuk saya, yaa nggak jauh-jauh dari Mbok Emban hahaha...

Hanya saja, karena saya senang berteman dan selalu bersikap baik pada teman saya yang manapun, saya menjadi populer di kalangan teman-teman di masa sekolah dulu. Mereka juga memperhatikan saya karena saya mencukupi kebutuhan sekolah saya dengan menulis...,sesuatu yang pada saat itu mungkin mereka anggap hebat.

Lantas, di mana titik balik itu? Ketika saya pertama kali memakai jilbab tahun 1988!
Kehidupan saya berubah 180 derajat, termasuk pandangan saya mengenai kecantikan.
Tiba-tiba saya tak lagi ingin terpenjara oleh fisik sendiri. Menjaga kebersihan dan keindahan itu sesuatu yang bagus. Tapi membuat diri ini harus putih, berbadan ala gitar spanyol dan tergantung pada make up yang selalu mengoreksi wajah sejati kita, lalu suntik botox, operasi plastik ini itu, susuk....ow. ..tunggu dulu!

"Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk." (QS At Tiin: 4)

Mahasuci Allah yang telah menciptakan setiap orang menjadi pribadi yang unik dan berpotensi dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Fii ahsani taqwiim. Nah bagaimana fii ahsani taqwiim-nya saya? Ya, kulit yang hitam ini (alhamdulillah) , hidung yang besar (alhamdulillah, saya menghirup oksigen jauh lebih banyak dari yang lain! :)). Dan semua bentuk saya, dari ujung rambut hingga ujung kaki...Masya Allah...betapa saya syukuri. Inilah "fii ahsani taqwiim" saya! Sebaik-baik bentuk saya! Lalu...

Ah, bagi saya, kecantikan pada menjadi kata yang tak lagi rumit. It's so simple..., ketika kita makin dekat pada Allah, maka kita akan semakin cantik. Iman dan amal adalah resep cantik yang tak bisa ditawar. Wudhu dan senyuman bahkan menjadi obat anti aging paling top, yang takkan tergantikan :). Selanjutnya. ..ya tetap berusaha untuk lebih enak dilihat, misalnya selalu menjaga kebersihan wajah dan tubuh, menjaga keindahan dengan baju yang selaras, enak dilihat, dan semacamnya. Percayalah pada Allah, sebelum percaya pada diri sendiri!
Dan cantik di mata Allah? Bukankah itu tujuan utama para perempuan sejati?

Saya ingat ketika suami saya datang melamar, "Saya memilih kamu karena karaktermu yang sangat kuat. Perempuan yang cantik, pintar, dan baik itu sangat banyak..., tapi sedikit yang memiliki karakter kuat...." (Waaaah diingat terus kalimat ajaib ini! :))

Jadi?
Mari banyak bersyukur, jadikan ahlak mulia sebagai pakaian utama, dan berprestasilah!
Maka insya Allah...kita akan semakin cantik...:)

Sukses ya!

AIRMATA di Hari Lebaran

Matahari baru saja terbit. Gema suara takbir yang bersahutan sejak tadi sore semakin jelas terdengar dari corong-corong masjid. Orang-orang dengan

pakaian bagus bergegas memasuki sebuah mesjid besar di salah satu jalan

di Jakarta. Kebanyakan mereka memakai busana Muslim dengan kepala ditutupi kopiah. Selembar sajadah terselempang di pundak mereka.

Sebagian wanita tampak sudah memakai mukena sejak berangkat dari rumah.

Sebagian lainnya berpakaian kebaya sambil menjinjing mukena dan sajadah.

Anak-anak tidak lupa dibawa serta.

Meskipun sebagian besar jamaah berjalan kaki, namun tidak sedikit diantara

mereka yang datang ke masjid itu berkendaraan, baik sepeda motor maupun

mobil.Kebanyakan mobil-mobil yang datang dipenuhi oleh seluruh anggota keluarga.

Perasaan gembira tampak jelas pada wajah-wajah mereka yang penuh senyum.

Maklumlah, hari ini adalah Hari Raya Idul Fitri, hari kemenangan umat

Islam, setelah satu bulan lamanya mereka menjalankan ibadah Ramadhan.

Suara takbir semakin menggema. Jamaah semakin padat memenuhi ruangan

masjid yang luas itu. Sebagian mulai tampak membanjiri teras masjid

karena bagian dalam masjid sudah penuh. Sebentar saja, teras pun penuh terisi jamaah.

Beberapa anak kecil memanfaatkan kesempatan itu untuk menawarkan koran

bekas kepada jamaah yang baru datang. Di Jakarta, apa pun bisa dijual,

tak peduli di hari raya seperti ini.

Bukan hanya anak-anak penjaja koran bekas saja yang sedikit "mengganggu

pemandangan"(tm) pagi itu. Beberapa pengemis pun tampak berjejer di depan

gerbang masjid menyambut para jamaah dengan menyodorkan baskom plastik.

Beberapa diantara mereka menggendong bayi yang masih mungil.

Seorang anak laki-laki dengan wajah kusut dan pakaian yang masih kotor

terlihat berdiri di depan gerbang. Sebut saja namanya Husein. Usianya

sekitar tujuh tahun. Ragu-ragu ia memasuki gerbang masjid.

Ia tahu kalau hari ini adalah Hari Raya Idul Fitri, sehingga ia ingin

masuk ke dalam masjid untuk ikut merayakannya dengan sholat Id. Akan

tetapi ia juga sadar kalau keadaan dirinya yang kusut dan tak terurus itu

bisa menjadi pusat perhatian jamaah lain yang berpakaian rapi.

Husein memang mematung di depan gerbang. Beberapa rombongan jamaah yang hendak masuk ke masjid menyadarkan dirinya untuk segera menyingkir dan memberi jalan kepada mereka. Anak itu segera menepi. Diurungkan niatnya untuk masuk ke gerbang masjid.

Kini ia sandarkan tubuhnya di pagar besi yang mengelilingi masjid. Dari

pagar itu ia bisa melihat bagaimana ramainya suasana halaman masjid oleh

para jamaah dengan pakaian baru aneka warna. Anak-anak seusianya tampak

duduk bersila di samping orang tua mereka dengan baju baru, kain sarung

baru dan peci yang juga baru. Kontras sekali dengan dirinya yang lusuh

oleh debu dan pakaian yang kotor.

Terbayang dalam ingatannya ketika tahun-tahun lalu ia masih bisa menikmati

suasana lebaran yang penuh kebahagiaan bersama kedua orang tuanya.

Pagi-pagi, ia sudah dibangunkan oleh tangan lembut ibunya. Terdengar suara

takbir dari masjid dekat rumahnya. Kue-kue dan ketupat tersaji di meja

makan. Ia dan anak-anak seusianya tidak lupa ikut orang tua mereka sholat

dimasjid atau tanah lapang.Tawa canda tampak dari mereka setiap kali

bertemu. Mereka seolah saling memperlihatkan baju baru yang mereka pakai.

Tapi itu dua tahun lalu, ketika kedua orang tuanya masih berada di

sisinya. Sebab beberapa bulan selepas kenangan manis itu, kedua orang

tuanya harus bercerai. Sebagai seorang anak kecil, ia tidak mengerti

mengapa kedua orang tuanya harus bercerai, sehingga ia harus menjadi

korban dari sikap egoisme kedua orang tuanya.

Beberapa bulan kemudian , ia masih bisa merasakan kasih sayang ibunya ,

meski tidak tahu lagi kemana ayahnya pergi. Tetapi lewat tiga bulan dari

perceraian kedua orang tuanya, ibunya terpaksa kawin lagi dengan lelaki

lain. Parahnya, lelaki itu juga membawa ibunya pergi ke Jakarta. Konon,

ayah tirinya itu punya pekerjaan di Jakarta meskipun hanya sebagai pekerja kasar.

Husein sendiri dititipkan kepada neneknya dari pihak ibu. Maklumlah sejak

menikah, ayah dan ibunya memang menumpang di rumah neneknya itu. Karena

itu, Husein sudah dekat dengan sang nenek meskipun tetap saja ia merasakan

kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Kalau saja ia besar, ia ingin

sekali meninggalkan neneknya dan pergi ke Jakarta untuk menyusul kedua orang tuanya.

Sebenarnya, neneknya sendiri tidak memiliki penghasilan yang memadai.

Diusianya yang sudah uzur, ia terpaksa menghidupi dirinya dan cucunya dengan

kerja serabutan. Kadang ia masih ikut menjadi kuli di sawah atau kerja apa

saja yang bisa mendatangkan sesuap nasi bagi dirinya bersama cucunya.

Husein sendiri kerap kali membantu neneknya. Ibunya yang konon ikut

suaminya ke Jakarta tidak kunjung kabar beritanya. Jangankan mengirimkan

uang untuk mereka, mengirimkan kabar saja tidak pernah.

Sampai akhirnya derita yang harus ditanggung Husein mencapai puncaknya

ketika minggu lalu sang nenek pun akhirnya pergi untuk selama-lamanya.

Neneknya meninggal dunia setelah dua hari menderita sakit. Para tetangga

berusaha mencari alamat ibunya untuk mengabari perihal kematian neneknya

itu. Tetapi tak satu pun yang tahu dimana alamat ibu Husein berada.

Akhirnya jenazah sang nenek terpaksa dimakamkan tanpa kehadiran anak

perempuan satu-satunya itu.

Selepas neneknya meninggal, beberapa saudara jauh dari neneknya mencoba

merayu Husein agar mau tinggal di rumah mereka. Akan tetapi Husein

tampaknya tidak bisa menerima kebaikan hati mereka. Mungkin ia merasa

kurang mengenal mereka.

Maklumlah mereka memang saudara jauh yang jarang datang ke rumah neneknya.

Akhirnya, satu hari setelah kematian neneknya, Husein nekad pergi

meninggalkan kampung halamannya. Dengan bekal seadanya, ia pergi ke

Jakarta untuk mencari ibunya. Ia sendiri tidak pernah membayangkan seperti

apa sesungguhnya kota Jakarta. Ia memang pernah melihatnya, tetapi hanya

lewat sinetron di televisi.

Husein pergi ke Jakarta dengan menumpang beberapa kendaraan. Dari

kampungnya di sebuah desa di Jawa Barat, ia menumpang mobil bak terbuka

yang kembali ke kota Kabupaten setelah mengantarkan barang-barang dagangan

seorang pemilik toko.

Beruntung sang sopir mau mengantarkannya sampai ke terminal. Dari terminal

ia menumpang bus jurusan Jakarta dengan gratis karena kebaikan sang

kondektur yang kasihan melihat Husein. Apalagi, seminggu menjelang Idul

Fitri seperti ini, bus yang ditumpanginya justru kosong jika menuju Jakarta.

Sampai di Kampung Rambutan, Husein langsung bertanya ke sana kemari

menanyakan orang-orang yang ditemuinya.

Ia mengira mencari orang di Jakarta sama mudahnya seperti mencari orang di

kampungnya. Ternyata, semua orang yang ditanyainya malah memarahi

kebodohannya yang mencari orang tuanya tanpa kejelasan alamat sedikit pun.

Husein tidak mau menyerah. Ia merasa sudah terlanjur sampai di Jakarta.

Pantang baginya kembali ke kampung halamannya. Apalagi ia merasa sudah

tidak ada lagi saudaranya di kampung halamannya. Untuk apa kembali lagi?

Sementara di ibukota ini, ia masih memiliki peluang untuk menemukan ibunya,

meskipun ia tidak tahu sampai kapan cita-citanya itu bisa terwujud.

Untuk mengganjal perutnya, ia berusaha mengamen dari satu bus ke bus

lainnya tanpa menggunakan alat musik apa pun. Ia mengamen hanya

bermodalkan suara dan tepuk tangannya saja. Jika malam menjelang, ia

mencari tempat tidur di pinggir-pinggir toko atau terminal. Beruntung ia

belum pernah dijahili oleh para preman.

Dan pada hari kelima kedatangannya di Jakarta, Idul Fitri pun tiba.

Suara orang ramai keluar dari masjid menyadarkan lamunan Husein. Anak-anak

seusianya berlarian dengan baju baru. Sebagian lainnya bergandengan tangan

dengan ibu bapaknya. Tiba-tiba Husein kembali teringat ibu bapaknya. Wajah

neneknya juga berkelebat di benaknya. Tanpa disadari, setetes air hangat

terbit di sudut kelopak matanya. Ia benar-benar merindukan orang-orang

yang dicintainya itu.

Ternyata, tanpa ia sadari, sepasang suami isteri yang mobilnya harus antri

keluar dari gerbang masjid, memperhatikan tingkah lakunya. Mereka trenyuh

menyaksikan seorang anak yang berwajah polos dengan penampilan kusut

tampak melamun menerawang denga air mata yang tak mampu ditahan. Mereka

tidak bisa membayangkan bagaimana jika nasib serupa menimpa anak-anak

mereka, meskipun sampai saat ini mereka belum juga dikaruniai seorang anak.

Suasana gerbang masjid yang semrawut membuat mobil pasangan yang sudah

tujuh tahun belum dikaruniai anak ini tidak bisa bergerak. Entah apa yang

menggerakkan hati wanita itu, ketika tiba-tiba ia membuka pintu mobil.

Sejenak ia menatap wajah suaminya. Mata sang suami tampak memberi isyarat

kalau ia menyetujui tindakan isterinya.

Sang isteri bergegas menghampiri Husein yang hendak bersiap pergi

meninggalkan tempat itu. Sedikit gugup dan agak kesulitan untuk memulai

menyapa Husein, perempuan yang sudah lama merindukan hadirnya seorang anak

dalam rumah tangganya itu, akhirnya memberanikan diri menuruti naluri rasa

sayangnya menyapa Husein.

"Ibumu dimana?" tanya perempuan itu. Husein terkejut bukan kepalang. Ia

tidak mengira kalau perempuan itu ternyata menyapanya. Padahal, ia belum

sempat menyeka air matanya.

Husein tidak mampu menjawab pertanyaan lembut itu. Ia seolah menemukan

kelembutan seorang ibu yang begitu lama dirindukannya. Ia hanya mampu

menggeleng karena air matanya semakin deras mengucur di pipi.

"Dimana ibumu?" tanya wanita itu lagi.

Husein berusaha keras melawan perasaannya, tetapi ia tidak mampu.

Berkali-kali ia mencoba mengusap air matanya, tetapi air bening itu seolah

tumpah begitu saja, tak mampu dibendungnya.

Perempuan itu tampaknya semakin penasaran sekaligus merasa kasihan kepada

Husein. Ia segera membungkuk, lalu duduk berjongkok agar bisa lebih dekat

lagi dengan anak malang itu. Diberanikan dirinya untuk menyentuh kepala

Husein. Lalu ia mengusapnya perlahan-lahan.

"Siapa namamu?" tanya wanita itu sambil menatap wajah Husein. Wanita itu

melihat kepolosan di mata anak itu, juga duka yang begitu dalam. Tampaknya

ia bisa membaca kepedihan dan duka Husein.

Mendapat perlakuan penuh kasih seperti itu, Husein semakin haru. Ia tidak

habis pikir. Betapa tidak, hampir satu minggu ia menjelajah ibukota

mencari ibunya, tetapi tak ada satu orang pun yang bersikap baik padanya,

apalagi menunjukkan perhatian yang begitu besar seperti wanita ini.

Sambil mengusap air matanya, ia mencoba memandang wanita itu. Wanita itu

masih memandangnya dengan tatapan penuh kasih seorang ibu. Aneh, tiba-tiba

perasaan haru yang besar merayap di hati Husein. Ia seolah merasakan kembali

tatapan dan kasih sayang ibunya yang sudah lama tidak dirasakannya. Tanpa

sadar, ia memeluk wanita itu, seolah memeluk ibunya sendiri yang begitu

lama tidak pernah mendekapnya. Air mata pun semakin deras mengalir dari

pipinya membasahi busana Muslimah wanita itu.

Wanita itu segera menyambutnya. Ia mengelus punggung anak malang itu.

Tanpa terasa, air matanya ikut menitik dan jatuh di pipinya. Ia bisa

merasakan kesedihan dan kerinduan seorang anak yang mendambakan kehangatan

orang tuanya. Perlahan ia lepaskan pelukannya dan dipegangnya pundak

Husein dengan lembut.

"Kamu tinggal dimana?" tanya wanita itu penuh harap.

Matanya benar-benar menyelidik, berharap Husein segera menjawabnya,

saya tidak punya rumah di sini. Saya mencari ibu. Katanya ibu ke

Jakarta,"jawab Husein.

"Dimana tinggalnya?" tanya wanita itu lagi.

Husein menggeleng, tetapi kemudia ia berucap, "Sudah hampir setahun ibu

pergi. Saya tidak tahu kemana. Kata nenek, ibu dibawa bapak tiri saya ke

Jakarta. Jadi saya pergi ke Jakarta. "Dimana nenekmu?" tanya wanita itu.

"Nenek meninggal satu minggu yang lalu di kampung. Saya, saya tinggal

sendiri. Bapak sudah lama pergi. Bapak kawin lagi. Saya tidak tahu

dimana," cerita Husein.

Mendengar pengakuan polos Husein, wanita itu semakin terharu. Naluri

keibuannya yang lembut membuatnya tak mampu menahan tetesan air bening

yang perlahan merambat di pipinya. Suaminya yang sejak tadi menunggu di

mobil yang sudah menepi, akhirnya turun juga. Ia bisa melihat keharuan di

mata isterinya, didekatinya isterinya sambil berjongkok memandang Husein.

"Maukah kamu menganggap saya ibumu?" tanya wanita itu.

Husein tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya mampu memandang sebentar

sepasang suami isteri yang menatapnya penuh haru dan kasih. Ia

membayangkan, betapa bahagianya jika dua orang di depannya itu adalah ayah

dan ibunya, dua orang yang begitu dirindukannya.

"Maukah engkau tinggal bersama kami? Anggaplah kami orang tuamu," ujar

wanita itu dengan suara sedikit bergetar. Husein semakin terharu. Perlahan

ia tegakkan kepalanya yang sejak tadi lebih banyak tertunduk.

Mata polosnya menatap sepasang suami isteri di depannya dengan penuh tanya.

"Ikutlah dengan kami," tiba-tiba suami perempuan itu ikut bicara. Ia

memegang bahu Husein. Lagi-lagi Husein tidak mampu menahan harunya. Ia

rebahkan wajahnya di bahu lelaki itu. Air matanya belum juga reda. Isteri

lelaki itu kembali mengusap kepala Husein.

Jangan takut, Nak. Meskipun orang tuamu belum engkau temukan, kami

bersedia menjadi pengganti mereka. Jadilah anak angkat kami," bujuk isterinya lagi.

Suami wanita itu mengangkat kepala Husein dan kembali memandangnya dengan

penuh rasa sayang. Sorot matanya menunjukkan betapa ia benar-benar ingin

mengajak Husein menjadi bagian dari keluarganya.

"Ikutlah dengan kami. Jadilah anak angkat kami," ucap lelaki itu sambil

memegang tangan kanan Husein. Isterinya pun segera berdiri dan memegang

tangan kiri Husein.

Tanpa bisa menolak lagi, Husein pun mengikuti kedua pasangan suami isteri

itu menuju mobil mereka. Begitu mobil dibuka, Husein berhenti sebentar. Ia

ragu-ragu. "Tak apa. Masuklah! Anggaplah kami orang tuamu!" ujar si suami.

Setelah Husein masuk, mobil pun segera pergi diikuti tatapan jamaah lain

yang tampak keheranan.

Sejak saat itu, Husein tinggal di rumah pasangan suami isteri tadi. Ia

dianggap anak oleh mereka. Tapi, Husein tetap tidak menyerah. Ia terus

berusaha menemukan kedua orang tuanya meskipun sampai hari ini, setelah

satu tahun kedatangannya di ibukota, usahanya tetap sia-sia.

Husein hanyalah salah satu contoh dari anak-anak yatim yang masih

beruntung karena masih ada orang yang mau mengasihinya. Masih banyak

anak-anak kita yang berkeliaran di jalan-jalan tanpa seorang pun yang

peduli apalagi melindungi dan mengasihi mereka. Semoga di hari yang fitri

nanti kita bisa berbagi kebahagiaan kepada mereka yang kurang beruntung,

terutama anak-anak yatim di sekitar kita.

Amiin.

Hidayah, Intisari Islam)

August 18, 2009

Sang Eksekutor

Pernah hidup dalam bimbang?
Pernah ngrasa ga tw mau berbuat apa?
Yah..itulah klo qt hidup dgn perbedaan yg dsertai sakit hati tak berkesudahan..

Terkesan berlebihan? Aku rasa ga juga..ini cuma tulisan tak bertuan yg hanya ingin berbagi lewat kata2..Ternyata mengasyikan..tidak vulgar, juga tidak to do point..
Silakan mencerna..

Akhirny cm aku yg jd korban..hufht. Pdhal pengen b'usaha seadil mungkin..
Pada akhirny aku cm bs gi2t jari..bingung di posisi mana..persimpangan yg cukup membingungkan..

Kadang aku cape..kadang aku pengen banget protes knapa Engkau memilih aku untuk ujian yg satu ini?


Kadang ngrasa ga adil ngliat rumput tetangga slalu lbh hijau..Ngiri mungkin krn menurutku hdup mereka lebih enak..


Tapi di satu sisi ada yg menguatkan aku. Bhwa aku pasti bs nglwatin ujian itu,mknya Dia memilihku utk menjadi "Sang Eksekutor"


Hahahaha..terlalu naifkah aku? Atau memaksa untuk membanggakan diri bahwa aku mampu..aku yg paling mampu?

Hanya waktu yg bisa jawab smua itu..sampai kapan aku tak tahu..
(udh kaya bait lagu ajah..)


smangaaaaat..!
*Prasuke*

Ujian Cumlaude

Kangen sama blog ini..Pengen nulis lagi..

Dalam hidup ga smua apa yg qt inginkan tu terkabul..Bukan suatu kegagalan tetapi hanya saja itu bkn yg terbaik untuk qt..

Suatu sore..stelah ktmu masku di salah satu little "cafe" di Perumnas 3 Bekasi..da banyak hal baru yg saya sadari..bhkan mengajarkan utk lebih dewasa..
Tidak menyalahkan keadaan tapi justru bangkit dr situasi yg tidak mengenakan..
Bukan sekedar bangkit melainkan lulus "dengan pujian" atau "cumlaude" dalam setiap cobaan qt..Jd bkn cuma IPK saya saja yg cumlaude..

Demikian kata2ny pada saya malam tadi.

Benar jg. Sjenak sy renungkan..
Btapa qt perlu bersyukur atas pa yg qt alami..ntah itu yg menyenangkan atau tidak.

Esokan hariny, saya telah mempraktekkanny..Btapa fakta bhwa saya bkn yg termasuk dlm bagian institusi itu adalah kenyataan yg harus sy hdapi dgn bijak. Tak perlu saya menggerutu atau mengeluh,bersu'udzon..Hanya 1..
Berpikir positif dan bangkit menyusun lembaran br dlm hdp sy kedepan.

Yah,itulah sdikit bnyak masukan yg sy trima.
Alright..


I'm really grateful for all u've done to me,dear..
Kembali memupuk semangat untuk sebuah harapan dalam hidup saya..

Buat kalian yg pernah mengalami kegagalan,jangan takut..Itu bukan kegagalan yg slalu disesalkan..hanya saja Alloh tau itu belum atau bukan yg tbaik untuk qt..

GANBATE..!

Marhaban Yaa Ramadhan

Alhamdulillah..memasuki bulan ramadhan n melaksanakan ibadah puasa hanya tinggal beberapa hari lagi..Sungguh suatu bulan yang penuh dengan rahmat dan berkah..

Lantas sudah siapkah diri kita untuk menyambutnya? Melaksanakan salah satu Rukun Islam ini..
Bukan hanya untuk sekedar menahan lapar dan dahaga,tetapi juga menahan segala nafsu dalam diri kita..Meningkatkan kualitas iman dan takwa kita.

Subhanallah kita masih di beri kesempatan bertemu dengan ramadhan ini..Masih bisa merasakan sungguh indahnya ramadhan..Menghiasi hari dengan saur dan shaum,beramal soleh,menghindari perbuatan2 kotor,bertadarus,serta berbuka puasa dan solat taraweh..

Namun siapkah diri kita apabila ini adalah ramadhan terakhir...??? Bila usia kita tak mampu lagi menggapainy dtahun depan?

Oleh karena itu..jagalah setiap ramadhan yang masih bisa kita raih,sebelum akhirny ramadhan itu adalah ramadhan terakhir kita..

...Marhaban Yaa Ramadhan...

Selamat menunaikan ibadah puasa.

Hikmah Kegagalan

Tuhan, apa Engkau mencoba mengatakan sesuatu kepadaku?

Karena...

Kegagalan bukan berarti aku orang yang gagal

Tapi berarti aku belumlah sukses

Kegagalan bukan berarti aku tidak mencapai apa pun

Tapi berarti aku telah belajar sesuatu

Kegagalan bukan berarti aku orang yang bodoh

Tapi berarti aku memiliki cukup iman untuk diuji

Kegagalan bukan berarti aku orang yang memalukan

Tapi berarti aku telah berani untuk mencoba

Kegagalan bukan berarti aku tidak memilikinya

Tapi berarti aku memiliki sesuatu untuk dilakukan dengan cara yang berbeda

Kegagalan bukan berarti aku lebih rendah dari yang lain

Tapi berarti aku tidaklah sempurna

Kegagalan bukan berarti aku telah menyia-nyiakan hidupku

Tapi berarti aku memiliki alasan untuk memulai lagi

Kegagalan bukan berarti aku harus menyerah

Tapi berarti aku harus berusaha lebih keras lagi

Kegagalan bukan berarti aku tidak akan pernah berhasil

Tapi berarti aku butuh lebih banyak berlatih

Kegagalan bukan berarti Engkau telah meninggalkan aku

Tapi berarti Engkau pasti memiliki rencana yang lebih baik bagiku